BUMIAJI, RADAR BATU - Kemarau panjang mulai mengerek harga kentang di tingkat petani Kota Batu. Minimnya pasokan air irigasi membuat pertumbuhan tanaman tak maksimal. Akibatnya, panen lebih banyak menghasilkan kentang berukuran kecil. Harga kentang di tingkat petani kini menyentuh Rp 13.500- 14 ribu per kilogram. Padahal normalnya Rp 10-12 ribu.
Dwi Putra Krismawanto, pedagang kentang di Desa Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji mengatakan cuaca ekstrem menjadi kendala utama petani. “Akibatnya, tanaman tidak bisa menghasilkan kentang berukuran besar, sehingga hasil panen didominasi kentang berukuran kecil,” ungkapnya.
Meski masih terserap pabrik pengolahan, berkurangnya kentang berukuran besar membuat pasokan terganggu. Kondisi itu turut mendorong kenaikan harga beli dari petani. “Saat ini, harga kentang di tingkat petani telah menyentuh Rp 13.500 hingga Rp 14 ribu per kilogram. Padahal normalnya Rp 10 ribu sampai Rp 12 ribu,” imbuhnya.
Baca Juga: Taman Hutan Bondas, Kota Batu Jadi Daya Tarik Akhir Pekan - Radar Batu
Kenaikan harga tersebut mulai memengaruhi daya serap pasar. Pemesanan dari pabrik keripik, retail, hingga pedagang eceran disebut mengalami penurunan volume. Dwi menjelaskan kentang berukuran kecil masih memenuhi kebutuhan sejumlah pabrik. Varietas BL, misalnya, berisi 13-14 buah per kilogram.
Sedangkan varietas TO yang paling kecil mencapai 50-60 buah per kilogram. Distribusi kentang dari Jawa Timur tetap berjalan meski pasokan dan harga fluktuatif. Hasil panen Sumberbrantas dikirim ke sejumlah daerah, seperti Mojokerto, Sidoarjo, Surabaya, Lamongan, hingga Tuban.
Selain kemarau, Dwi menyebut penurunan ukuran kentang juga dipengaruhi kondisi lahan yang kian menurun serta tingginya penggunaan obat-obatan kimia. “Sepuluh tahun lalu, kentang di sini bisa berukuran besar, mungkin bisa sampai satu genggam tangan orang dewasa. Sekarang sudah jauh berkurang,” pungkasnya.
Editor : Fajar Andre Setiawan