Pemkot Batu Siapkan Skema Permodalan Koperasi Pertanian dan UMKM

Rori Dinanda Bestari • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 17:00 WIB
BERI ARAHAN: Wali Kota Batu Nurochman memberikan sambutan dalam forum Pelatihan Perkoperasian di Hotel Selecta, Kecamatan Bumiaji kemarin (28/7). (RORI DINANDA BESTARI/RADAR BATU)
BERI ARAHAN: Wali Kota Batu Nurochman memberikan sambutan dalam forum Pelatihan Perkoperasian di Hotel Selecta, Kecamatan Bumiaji kemarin (28/7). (RORI DINANDA BESTARI/RADAR BATU)

BUMIAJI, RADAR BATU - Akses permodalan dan tata kelola yang belum optimal masih menjadi tantangan utama koperasi sektor pertanian dan UMKM di Kota Batu. Kondisi tersebut dinilai menghambat koperasi mengembangkan usaha. Hal itu juga membuat koperasi sulit menembus jaringan pasar modern yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.

Persoalan itu menjadi perhatian dalam Pelatihan Perkoperasian yang digelar di Hotel Selecta kemarin (28/7). Wali Kota Batu Nurochman mengatakan mayoritas petani, peternak, dan pelaku UMKM pengolahan hasil pertanian masih bergantung pada pasar tradisional. Padahal, peluang keuntungan lebih besar bila produk masuk rantai pasok pasar modern.

Untuk itu, koperasi membutuhkan dukungan modal kerja. Modal itu untuk memenuhi standar pengemasan, sertifikasi produk, hingga menjaga kontinuitas pasokan. Karena itu, Pemkot Batu membuka peluang fasilitasi bantuan permodalan melalui berbagai skema. Mulai dari pemerintah, lembaga keuangan, hingga kemitraan strategis.

Baca Juga: Koperasi Coosae Kota Batu Kembangkan Aplikasi AI Rantai Pasok

Penguatan kelembagaan koperasi juga menjadi prioritas agar bantuan yang disalurkan benar-benar tepat sasaran. “Koperasi tidak boleh hanya menjadi wadah simpan pinjam. Namun, harus mampu menjadi offtaker hasil pertanian yang profesional dan memiliki daya saing,” ujar pria yang akrab disapa Cak Nur itu.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskumperindag) Kota Batu Dian Fachroni Kurniawan menjelaskan kebutuhan modal setiap koperasi harus disesuaikan dengan model bisnis yang dijalankan. “Rasio itulah yang nantinya menentukan skala usaha ideal suatu koperasi,” katanya.

Dian mengakui masih banyak koperasi di Kota Batu yang menghadapi tantangan dari sisi kelembagaan. Indikator koperasi sehat, menurutnya, terlihat dari pelaksanaan Rapat Anggota Tahunan (RAT) secara rutin. Selain itu juga dilihat dari perkembangan usaha yang terukur dan adanya pertumbuhan kinerja.

Baca Juga: Agenda Pemerintahan di Kota Batu Wajib Gunakan Produk UMKM Lokal

Sebagai contoh, PT Selecta dinilai dapat menjadi referensi pengembangan koperasi. Sebab, mampu tumbuh menjadi usaha berskala besar. Pengalaman itu diharapkan menjadi bahan pembelajaran bagi koperasi lain di Kota Batu. Untuk memperkuat tata kelola, pendampingan diberikan melalui Cooperative Smart Agriculture Ecosystem (COOSAE) bersama Dekopinda.

Pendampingan difokuskan pada transparansi laporan keuangan dan pembenahan manajemen internal. Tujuannya agar koperasi lebih mudah mengakses pembiayaan. “Harapannya, forum dan skema pendampingan ini benar-benar memberi manfaat bagi keberlangsungan koperasi di Kota Batu,” pungkas Dian. (ori/dre)

Editor : Fajar Andre Setiawan
Bumiaji UMKM Batu Pasar Moderen pemkot batu koperasi