BATU, RADAR BATU - Pasar tanaman hias di Desa Sidomulyo, Kecamatan Batu, belum sepenuhnya pulih setelah pandemi Covid-19. Daya beli turun hingga 70 persen sehingga omzet pedagang merosot tajam. Jika sebelum pandemi pedagang mampu meraup belasan hingga puluhan juta rupiah per hari, kini pada hari biasa rata-rata hanya berkisar Rp 1 juta saja.
Penurunan itu tidak hanya dipicu melemahnya daya beli masyarakat. Pelaku usaha juga menilai perubahan tren wisata di Kota Batu ikut memengaruhi jumlah pengunjung. Wisatawan kini lebih banyak memilih destinasi hiburan modern dibanding singgah ke sentra tanaman hias di Sidomulyo.
Rizal Afriandi, pemilik Kios Bunga Barokah mengatakan kondisi tersebut memaksa pedagang mengubah strategi penjualan. Mereka kini lebih banyak menyediakan tanaman yang pasarnya relatif stabil seperti anggrek, kaktus, dan sukulen. Menjelang Agustus, permintaan krisan dan kastuba juga mulai meningkat untuk kebutuhan dekorasi.
Baca Juga: Rekomendasi Kolam Renang Murah di Batu, Ada yang Tiketnya Cuma Rp3.000 - Radar Batu
Di tengah persaingan yang semakin ketat, pedagang juga memilih menekan harga agar penjualan tetap bergerak. “Kalau harga dinaikkan, pembeli semakin sedikit. Kami jualan lewat platform digital pun belum memberikan hasil yang diharapkan,” ungkapnya.
Rizal mengaku sempat berjualan melalui TikTok, tapi akhirnya menghentikan penjualan karena potongan komisi dinilai terlalu besar. “Potongannya bisa lebih dari 20 persen. Kalau harga dinaikkan supaya menutup biaya, barangnya malah sulit laku,” katanya.
Selain persoalan biaya administrasi, penjualan tanaman secara daring juga menghadapi kendala pengiriman. Tanaman hidup rentan rusak selama proses distribusi, mulai daun rontok, layu, hingga mati sebelum diterima pembeli.
Baca Juga: Tiga Pantai dalam Satu Desa, Cerita di Balik Booming Wisata Bowele - Radar Batu
Kondisi serupa dirasakan Febri Angga, pengepul tanaman hias di Desa Sidomulyo, Kecamatan Batu. Ia kini lebih memilih melayani pesanan proyek dibanding penjualan eceran. Sebab, volumenya jauh lebih besar. Dalam satu proyek, permintaan bisa mencapai 2 ribu pot.
“Kalau jual satu atau dua pot secara online, waktunya tidak sebanding,” ujarnya. Menurut Febri, bunga krisan masih menjadi komoditas utama dan menyumbang sekitar 80 persen volume penjualan. Meski demikian, keuntungan yang diperoleh terus menurun.
Jika saat tren tanaman hias pada masa pandemi mampu meraih laba sekitar Rp 1,5 juta per hari, kini keuntungan bersih hanya berkisar Rp 400 ribu hingga Rp 600 ribu per hari. Penurunan itu juga dipengaruhi kenaikan harga pupuk dan pestisida yang membuat biaya produksi semakin tinggi.
Editor : Fajar Andre Setiawan