Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Bonsai dari Kota Batu Sukses Tembus Pasar Eropa

I
Penulis: Indah Mei Yunita❯
PRODUK EKSPOR: Petugas di UD Artha menata tanaman bonsai yang menjadi produk ekspor beberapa waktu lalu. (INDAH MEI YUNITA/RADAR BATU)
PRODUK EKSPOR: Petugas di UD Artha menata tanaman bonsai yang menjadi produk ekspor beberapa waktu lalu. (INDAH MEI YUNITA/RADAR BATU)

Advertisement

BATU, RADAR BATU - Tanaman bonsai asal Kota Batu mampu menembus pasar internasional. Selain Malaysia dan Singapura, pengirimannya juga menjangkau Eropa. Volume setiap kali pengiriman pun bisa mencapai satu kontainer. Permintaan tersebut menjadi peluang bagi pelaku usaha lokal. Kendati, mereka masih dibayangi kendala cuaca dan bahan baku.

Tim Pemasaran UD Artha D. F. Andika mengaku memiliki sekitar 1.000 tanaman bonsai dari berbagai jenis. Di antaranya kelompok cemara, ficus atau sebangsa beringin, seribu bintang, boksus, dan lada-lada. “Pemasaran lokal meliputi Malang Raya dan luar Jawa. Kalau ekspor biasanya ke Malaysia dan Singapura,” ucapnya.

Pengiriman ke Malaysia dan Singapura sifatnya satuan. Sementara, ekspor ke Eropa biasanya mencapai satu kontainer. Untuk pasar Eropa, pihaknya bekerja sama dengan eksportir lain. Ia bisa mengirim sekitar 100 pot per bulan. Frekuensinya menyesuaikan permintaan. Mulai satu hingga tiga kali dalam setahun.

Produksi bonsai membutuhkan perawatan ekstra. Terutama saat musim kemarau. Cuaca kering membuat frekuensi penyiraman harus ditingkatkan. Tujuannya agar pertumbuhan tanaman tetap optimal. Pada tahap pembibitan, pengelola lebih mengandalkan teknik cangkok. Metode tersebut dinilai efektif untuk memaksimalkan pembentukan akar. 

Sementara, setek dinilai kurang efektif. Kecuali, kalau ditempatkan di area yang benar-benar teduh. Kendala lain datang dari rantai pasok global. Salah satunya ketersediaan kawat untuk membentuk bonsai. Bahan itu umumnya didatangkan dari luar negeri. “Namun, karena situasi yang kurang kondusif tahun ini, stok di penjual lokal sudah tidak ada,” imbuhnya.

Advertisement

Kondisi itu membuat pengelola memilih mendaur ulang kawat bekas. Sebelumnya, kawat yang telah digunakan langsung dilepas dan dibuang. Sejak tahun ini, kawat tersebut kembali dimanfaatkan untuk membentuk tanaman lainnya. Di tengah tantangan cuaca dan rantai pasok, pelaku usaha optimistis produksi bonsai Batu tetap bertahan.

Advertisement

Artikel Terkait

Kenapa Tanaman Terlihat Lebih Subur saat Musim Hujan?

Kenapa Tanaman Terlihat Lebih Subur saat Musim Hujan?

Musim hujan membuat tanaman tampak lebih segar. Simak peran air, kondisi tanah, dan cara merawat tanaman agar tetap sehat.

Produksi Mawar di Kota Batu Tembus 82,13 Juta Tangkai

Produksi Mawar di Kota Batu Tembus 82,13 Juta Tangkai

Produksi mawar Kota Batu mencapai 82,13 juta tangkai pada 2025, tertinggi dari 17 tanaman hias, dengan Bumiaji sebagai sentra utama.

Omzet Pedagang Pasar Bunga di Desa Sidomulyo, Kota Batu Turun hingga 70 Persen

Omzet Pedagang Pasar Bunga di Desa Sidomulyo, Kota Batu Turun hingga 70 Persen

Daya beli tanaman hias di Sidomulyo turun 70% sejak pandemi, membuat omzet pedagang merosot dan strategi penjualan berubah.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer