BATU, RADAR BATU - Penguatan dolar Amerika Serikat mulai menekan bisnis makanan dan minuman (F&B) di Kota Batu. Biaya produksi terus naik, sementara harga jual sulit disesuaikan. Akibatnya, margin keuntungan pelaku usaha semakin menipis.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu Sujud Hariadi mengatakan, kenaikan dolar langsung mengerek harga bahan baku impor. Beban usaha juga bertambah akibat kenaikan Upah Minimum Kota (UMK) dan harga elpiji non-subsidi. Kondisi itu paling dirasakan restoran besar dan restoran hotel.
BACA JUGA: Libur Sekolah, Arus Lalu Lintas di Kota Batu Padat Merayap
Menurut Sujud, biaya produksi satu porsi nasi goreng kini naik dari sekitar Rp 15 ribu menjadi Rp 17.500-Rp 18 ribu. Namun, restoran tidak bisa serta-merta menaikkan harga jual. Daya beli masyarakat yang belum pulih membuat pelaku usaha memilih menahan harga.
“Kalau harga dinaikkan terlalu tinggi, konsumen bisa berkurang. Itu yang kami hindari,” ujarnya. Meski dijual Rp 30 ribu per porsi, pendapatan restoran tidak utuh. Harga tersebut masih dipotong pajak restoran 10 persen dan service charge 10 persen. Alhasil, pendapatan bersih yang diterima pengelola hanya sekitar Rp 24 ribu.
BACA JUGA: Hotel Sepi Kegiatan Pemerintah, Wali Kota Batu Bakal Data Vila untuk Dongkrak Pajak Daerah
“Kalau modalnya sudah Rp 18 ribu, keuntungan bersihnya tinggal sekitar Rp 6 ribu,” kata Direktur PT Selecta tersebut. Margin yang semakin tipis membuat restoran bergantung pada tingginya jumlah pengunjung. Saat kunjungan menurun, pendapatan lebih banyak terserap untuk membayar gaji karyawan dan biaya operasional.
Kondisi itu diperparah karena kunjungan wisata di Kota Batu masih didominasi akhir pekan dan musim liburan. Sujud berharap stabilitas nilai tukar dan perekonomian segera membaik. Sebab, kenaikan biaya produksi yang terus berlanjut dikhawatirkan semakin menekan keberlangsungan usaha sektor F&B. (ori/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan