Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Program MBG di Kot Batu Jeda, Harga Sayur Anjlok

Fajar Andre Setiawan • Kamis, 2 Juli 2026 | 17:07 WIB
PASOKAN MELIMPAH: Antrean mobil pikap bermuatan sayuran dari petani berjejer di area Pasar Induk Among Tani Kota Batu. Liburnya program MBG pekan ini membuat pasokan sayur di pasar menumpuk.
PASOKAN MELIMPAH: Antrean mobil pikap bermuatan sayuran dari petani berjejer di area Pasar Induk Among Tani Kota Batu. Liburnya program MBG pekan ini membuat pasokan sayur di pasar menumpuk.

BATU, RADAR BATU - Masifnya serapan sayur-mayur langsung dari petani untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) terbukti mengganggu keseimbangan suplai di Pasar Induk Among Tani Kota Batu. Saat program sedang jeda seperti sekarang, stok sayuran menjadi sangat melimpah. Kondisi itu membuat harga sejumlah komoditas anjlok drastis. Cabai rawit misalnya, turun menjadi Rp 30-36 ribu per kilogram setelah sebelumnya sempat meroket hingga Rp 60 ribu.

Penurunan tajam serupa terjadi pada sayur andewi yang merosot ke angka Rp 6 ribu sampai Rp 8 ribu per kilogram dari yang sebelumnya mencapai Rp 50 ribu per kilogram. Selain itu, harga sawi daging dan caisim juga anjlok menjadi Rp 5 ribu per kilogram dari harga sebelumnya yang bertengger di angka Rp 20 ribu per kilogram.

BACA JUGA: Besok Pengumuman Jalur Prestasi Akademik SMK Disiarkan, Ini Linknya Pengumumannya

Di sisi lain, komoditas tomat terpantau lebih kuat dan cenderung stabil di kisaran Rp 10 ribu per kilogram. Keterikatan antara bergulirnya program MBG dengan naik-turunnya harga diakui langsung para pelaku usaha. Arifin Budi, salah seorang pedagang sayur, menyebut harga saat ini bergantung pada aktif tidaknya penyaluran program pemenuhan gizi tersebut.

Saat program berjalan, lonjakan harga terjadi serempak akibat ketatnya perebutan pasokan. Sistem pengadaan logistik program memotong jalur distribusi konvensional karena pihak ketiga memborong langsung hasil panen dari petani dalam skala besar. Akibatnya, pasokan ke pasar induk langka dan memicu meroketnya harga di lapak pedagang.

BACA JUGA: 30 Ribu Batang Rokok Ilegal di Kota Batu Disita Bea Cukai Malang

“Kalau ada MBG, harga naik serempak. Nah, kalau pas MBG libur, ibu-ibu dan pedagang suka karena harganya turun. Tapi di sisi lain, petani yang kesulitan,” keluh Arifin. Ia berharap regulasi pengadaan ini bisa dievaluasi demi menjaga ketersediaan barang di pasar agar harga tidak terus-terusan liar.

Sutini, salah seorang pembeli di Pasar Induk Among Tani, mengaku sangat terbantu dengan turunnya harga kebutuhan pokok saat ini. “Kalau bisa tetap seperti ini harga sayurnya, jadi pengeluaran tidak terlalu membengkak. Dulu pegang uang Rp 100 ribu cepat habis karena semuanya naik, sekarang agak mendingan,” tuturnya di sela-sela belanja. (kr2/dre)

Editor : Fajar Andre Setiawan
#sayur mayur #harga sayur #mbg dijeda #kota batu