Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Petani Kota Batu Tinggalkan Pupuk Subsidi, Rela Keluarkan Modal Lebih Besar demi Selamatkan Panen  

Fajar Andre Setiawan • Minggu, 21 Juni 2026 | 18:44 WIB
PERTANIAN HORTIKULTURA: Salah seorang petani membersihkan gulma di kebun bawang prei yang ditumpangsarikan dengan salad andewi.
PERTANIAN HORTIKULTURA: Salah seorang petani membersihkan gulma di kebun bawang prei yang ditumpangsarikan dengan salad andewi.

BATU, RADAR BATU - Harga pupuk komersial yang jauh lebih mahal tidak lagi menjadi penghalang bagi sebagian petani hortikultura di Kota Batu.

Pada musim tanam 2026, banyak petani justru memilih meninggalkan pupuk subsidi dan beralih ke produk nonsubsidi demi menjaga kualitas hasil panen.

Fenomena ini terjadi karena petani menilai pupuk komersial mampu memberikan hasil yang lebih baik dibanding pupuk subsidi.

Meski biaya produksi meningkat, mereka menganggap risiko tersebut lebih kecil daripada potensi gagal panen akibat kualitas tanaman yang menurun.

Petani hortikultura asal Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Nur Ikhsan, mengaku tidak lagi bergantung pada pupuk subsidi.

Menurutnya, kebutuhan petani hortikultura berbeda dengan petani tanaman pangan yang selama ini menjadi prioritas program subsidi pemerintah.

“Di Bumiaji banyak komoditas buah dan sayur. Kebutuhan pupuknya berbeda, tetapi kuota subsidi masih mengikuti aturan untuk tanaman tertentu,” ujarnya.

Keluhan serupa disampaikan petani asal Desa Sidomulyo, Setia Wahyudi. Ia menilai kualitas pupuk subsidi saat ini tidak lagi sebaik beberapa tahun lalu.

Baca Juga: Petani Sayur Pilih Modal daripada Panen Gagal, Nekat Borong Pupuk Mahal demi Kualitas Produksi, Skema Distribusi Dinilai Merugikan Sektor Hortik

Menurutnya, penggunaan pupuk subsidi dalam jangka panjang membuat struktur tanah menjadi lebih keras sehingga pertumbuhan tanaman kurang optimal. Saat musim hujan atau cuaca ekstrem, tanaman juga lebih rentan terserang penyakit.

Sebaliknya, pupuk komersial dinilai mampu meningkatkan kualitas daun, memperkuat ketahanan tanaman terhadap serangan hama, dan menghasilkan bobot panen yang lebih baik.

Petani jeruk dan kol asal Kecamatan Junrejo, Duwi Ari, mengaku langsung merasakan perbedaan setelah menggunakan pupuk nonsubsidi.

Perubahan terlihat dari kondisi daun yang lebih segar serta pertumbuhan buah yang lebih maksimal.

Meski demikian, keputusan beralih ke pupuk komersial membuat biaya produksi meningkat cukup signifikan. Risiko kerugian tetap mengintai ketika harga hasil panen jatuh di pasaran.

Baca Juga: Petani Hortikultura Kota Batu Mulai Tinggalkan Pupuk Subsidi, Keluhkan Kualitas hingga Picu Penyakit Tanaman

Namun bagi sebagian petani, menjaga kualitas produksi dianggap lebih penting daripada menghemat biaya pupuk.

“Kalau panen gagal, kerugiannya jauh lebih besar daripada tambahan biaya pupuk,” ujar salah satu petani. (kr2/dre)

Editor : A. Nugroho
#Harga pupuk komersial #kota batu #hortikultura #petani