BATU, RADAR BATU - Berdasarkan data riwayat konsumsi di salah satu Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) 5465309 Jalan Diponegoro Nomor 86, Kelurahan Sisir, Kecamatan Batu, angka penjualan Pertamax sebelumnya stabil di kisaran 7-7,7 liter per hari. Namun, setelah kenaikan harga sejak 10 Juni lalu, konsumsi Pertamax anjlok di angka 5.900 liter per hari.
Lonjakan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax sebesar 32 persen langsung memicu migrasi besar-besaran konsumen di Kota Batu. Para pengendara kini ramai-ramai beralih ke varian subsidi Pertalite. Fenomena ini terekam jelas dari pergeseran data konsumsi harian di tingkat stasiun pengisian yang mengalami perubahan drastis dalam kurun waktu singkat.
BACA JUGA: Balai Kota Among Tani Jadi Pusat Nobar Piala Dunia 2026, Pemkot Batu Pilih Laga Favorit
Supervisor SPBU 5465309 Kota Batu Ahmad Kardhowi menyebut di saat yang sama konsumsi Pertalite melonjak drastis. Dari rata-rata awal 19 ribu liter per hari, menjadi 24 ribu liter per hari. Bahkan, tren peralihan tersebut terus merangkak naik hingga menyentuh angka 25,4 ribu liter pada 13 Juni lalu.
Pergeseran konsumsi dari Pertamax ke Pertalite didominasi pengendara roda dua. Menurut Kardhowi, penurunan omzet Pertamax berbanding lurus dengan lonjakan konsumsi Pertalite akibat perubahan perilaku pasar secara mendadak. “Untuk stok kami pastikan aman setiap hari,” ujar Kardhowi.
BACA JUGA: Boarding School di Kota Batu Jadi Incaran Nasional, Pendaftar Datang dari Sumatera hingga Papua
Khafivatul Fikriyah, seorang pembeli BBM di SPBU 5465309 Kota Batu mengeluhkan kenaikan harga Pertamax membuat masyarakat kelas menengah ketar-ketir. “Dengan pendapatan UMR dan harga Pertamax yang melambung, tentu tidak sepadan. Kami berharap pemerintah menurunkan harga di angka semula,” keluh Khafivatul.
Di sisi lain, konsumen kini menghadapi dilema berat. Mereka terjebak antara menjaga kesehatan mesin kendaraan atau menghemat pengeluaran harian di tengah himpitan ekonomi. Karisa Khofifah, salah satu konsumen Pertamax mengaku sangat kecewa.
Namun, ia terpaksa bertahan demi merawat sepeda motornya agar performanya tidak turun. “Kecewa sekali karena harganya naik, tapi bagaimana lagi. Kalau turun ke Pertalite takut performa mesin jadi kurang optimal,” pungkas Karisa pasrah. (kr2/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan