BATU, RADAR BATU - Luas panen mawar potong di Kota Batu pada 2025 lalu sukses menembus hamparan 1.036.550 meter persegi. Disusul krisan seluas 407.900 meter persegi dan anggrek 73.450 meter persegi. Meski volume budidaya tanaman hias ini tumbuh stabil di angka 10 persen per tahun, ambisi ekspor masih tertahan regulasi karantina global.
Lonjakan kapasitas produksi agribisnis nyatanya belum cukup menjadi tiket emas bagi komoditas lokal untuk menembus pasar internasional. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan-KP) Kota Batu Hendry Suseno menyebut tingginya standar negara tujuan menjadi beban berat bagi pelaku usaha.
BACA JUGA: Bantu Warga Batu, IshK Tolaram Eye Centre (ITEC) Gelar Periksa Mata Gratis di CFD
“Syarat ekspor tanaman hias itu sangat banyak dan ketat. Sulit dipenuhi eksportir kita secara mandiri,” ungkap Hendry. Selain regulasi niaga, mandeknya regenerasi karena minimnya minat generasi muda pada sektor pertanian turut menjadi bom waktu.
Menyikapi kebuntuan tersebut, Pemkot Batu mengambil langkah intervensi. Skema pendampingan perizinan ekspor ke Pusat Perlindungan Varietas Tanaman (PPVT) Kementerian Pertanian dan Balai Karantina Indonesia mulai digenjot.
BACA JUGA: BPR Dhana Lestari Getol Gaet Nasabah Warga Batu
Distan-KP juga menyalurkan bantuan infrastruktur berupa greenhouse modern. Fasilitas ini difokuskan bagi komoditas krisan dan anggrek. Tujuannya menjaga kualitas kelopak standar ekspor, menekan risiko serangan organisme pengganggu, serta mengadopsi Good Agricultural Practices (GAP) untuk melawan anomali iklim.
Lambatnya penetrasi ekspor dan fluktuasi pasar domestik memaksa petani lokal memutar otak. Galih Alfiana, petani yang telah 14 tahun berkecimpung di industri ini, memilih banting setir ke pasar alternatif. Di atas lahan 200 meter persegi, ia membudidayakan sekitar 1.000 pot dyckia, tanaman eksotis khusus taman kering (dry garden).
BACA JUGA: Mengapa Kulit Terlihat Kusam Meski Skincare Sudah Mahal? Coba Cek Kebiasaan Ini
“Persaingannya belum sepadat mawar atau anggrek. Peluang budidaya tanaman ini di sini masih sangat bagus,” kata Galih. Kejelian melihat celah pasar itu mengamankan omzet rutin baginya di kisaran Rp 2-5 juta per masa panen. Namun, Galih tak menampik adanya siklus kelesuan pasar domestik yang harus dihadapi setiap tahun.
“Permintaan biasanya selalu lesu saat memasuki musim ajaran baru sekolah,” keluhnya.
Selain siklus ekonomi, ancaman gagal panen menjadi teror nyata. Petani harus berjibaku melawan empat jenis jamur patogen ganas.
BACA JUGA: Kerja Sama TVRI dan Polri: Hadirkan Nobar Piala Dunia 2026 untuk Gerakkan Ekonomi UMKM
Mulai dari embun tepung (powdery mildew), bercak daun antraknosa, jamur akar putih, hingga layu fusarium yang mampu membusukkan tanaman dalam waktu singkat. Kolaborasi taktis kini menjadi kunci.
Ketekunan petani merawat kualitas vegetasi di kebun harus diimbangi keberhasilan pemerintah memangkas jalur birokrasi karantina. Sinergi ini menjadi syarat mutlak agar flora Kota Batu tak sekadar jago kandang. (kr2/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan