Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Harga Apel di Petani Cuma Rp10 Ribu, Sampai Konsumen Melonjak Rp40 Ribu per Kg

Fajar Andre Setiawan • Minggu, 14 Juni 2026 | 14:30 WIB
Grafis bencana ganda apel Batu.
Grafis bencana ganda apel Batu.

 

BATU, RADAR BATU – Petani apel di Kota Batu menghadapi persoalan serius dalam rantai tata niaga. Harga jual di tingkat petani hanya berkisar Rp10 ribu per kilogram, namun ketika sampai ke tangan konsumen dapat melonjak hingga Rp40 ribu per kilogram atau selisih sekitar Rp30 ribu.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan-KP) Kota Batu Hendry Suseno mengatakan disparitas harga tersebut menjadi salah satu penyebab usaha budidaya apel semakin berat dijalankan.

Di tengah biaya produksi yang terus meningkat, petani justru belum menikmati keuntungan yang sepadan.

BACA JUGA: Kuota Jalur Domisili SMPN di Junrejo Resmi Rilis, Persaingan Diprediksi Ketat

“Di tingkat petani, harga apel sering kali hanya sekitar Rp10 ribu per kilogram. Namun saat sampai ke konsumen di pasar, harganya bisa mencapai Rp40 ribu per kilogram,” ujarnya.

Menurut Hendry, tingginya biaya produksi membuat margin keuntungan petani semakin tipis. Kondisi itu diperparah dengan ketidakpastian harga jual dan panjangnya rantai distribusi yang menyebabkan nilai tambah lebih banyak dinikmati pihak lain.

Selain persoalan pasar, petani juga harus menghadapi ancaman penyakit tanaman seperti busuk buah, kutu sisik, hingga daun perak. Penyakit tersebut meningkatkan biaya perawatan sekaligus menurunkan produktivitas kebun.

BACA JUGA: Wakil Ketua KONI Kota Batu Diduga Terseret Kasus Pengeroyokan

Untuk menekan kerugian, sebagian petani mulai melakukan diversifikasi produk. Buah yang mengalami pembusukan ringan dipilah dan diolah menjadi produk olahan seperti keripik apel maupun carang mas sehingga masih memiliki nilai ekonomi.

Di sisi lain, petani juga berupaya menekan ongkos produksi dengan memanfaatkan pestisida nabati dan pupuk organik cair yang diracik secara mandiri. Cara tersebut dipadukan dengan penggunaan pestisida kimia dalam dosis terbatas untuk mengatasi hama yang telah resisten.

BACA JUGA: Home Industry Sablon Kaos di Pendem, Kota Batu Dilalap Api

Hendry berharap persoalan disparitas harga dapat menjadi perhatian berbagai pihak agar keberlangsungan komoditas apel sebagai ikon Kota Batu tetap terjaga di tengah tekanan biaya produksi dan fluktuasi pasar. (kr2/dre)

Editor : Fajar Andre Setiawan
#harga buah apel #apel kota batu #Petani Apel Batu