Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Rupiah Melemah, Sektor Pariwisata Resah, Omzet Toko Oleh-Oleh Merosot Tajam, Okupansi Hotel Terjebak Stagnasi

Rori Dinanda Bestari • Jumat, 12 Juni 2026 | 14:00 WIB
RUPIAH ANJLOK: Grafis data dampak rupiah anjlok ke sektor pariwisata, perhotelan, dan pusat oleh-oleh di kota Batu.
RUPIAH ANJLOK: Grafis data dampak rupiah anjlok ke sektor pariwisata, perhotelan, dan pusat oleh-oleh di kota Batu.

 

“Kenaikan biaya operasional ini langsung memukul kami.

Sementara di sisi lain, daya beli masyarakat sedang menurun drastis. Pasar pariwisata sekarang sangat sensitif terhadap harga.”

Sujud Hariadi, Ketua PHRI Kota Batu.

 

BATU, RADAR BATU - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS memicu lonjakan biaya operasional banyak sektor. Dampaknya kini juga mulai menggerogoti urat nadi pariwisata Kota Batu. Bahkan, menahan batas okupansi hotel di angka 80-90 persen per Juni ini. Kelesuan ini diperparah amblesnya daya beli masyarakat. Hal itu memaksa pelaku usaha perhotelan hingga komoditas hilir memutar otak demi menutup pembengkakan biaya produksi.

Kabid Pemasaran Pariwisata Dinas Pariwisata (Disparta) Kota Batu Farida Anifah mengakui inflasi makroekonomi ini memicu kenaikan harga bahan baku pangan seperti beras. Dampaknya, pengelola restoran dan hotel harus ekstra hati-hati merancang paket wisata agar tidak ditinggal konsumen.

BACA JUGA: Nurochman Terpilih Lagi, PKB Kota Batu Siapkan Konsolidasi Besar-besaran

Pergeseran pola konsumsi membuat masyarakat kini memangkas anggaran hiburan. “Masyarakat kini lebih memprioritaskan kebutuhan pokok. Dana untuk rekreasi pun akhirnya ditekan seminimal mungkin,” tambahnya.

Tekanan serupa melanda industri perhotelan akibat koreksi harga LPG dan komponen energi, termasuk ketergantungan pada bahan baku impor. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu Sujud Hariadi menyebut situasi ini menciptakan dilema akut antara menjaga kualitas layanan atau menanggung pembengkakan pengeluaran (cost).

“Kenaikan biaya operasional ini langsung memukul kami. Sementara di sisi lain, daya beli masyarakat sedang menurun drastis,” keluh Sujud. Perubahan perilaku ini membuat wisatawan cenderung memburu destinasi alam yang jauh lebih ramah kantong. Minat pelancong dilaporkan mulai bergeser ke area pesisir.

BACA JUGA: Dua Guru Besar Teknik Elektro UMM Ciptakan AI Medis dan Robot Termal

“Kalau dulu kami saingannya dengan mal, kini wisatawan banyak yang memilih ke pantai,” ungkapnya. Imbasnya, masa kejayaan hotel untuk menaikkan tarif kamar (room rate) hingga dua kali lipat saat musim liburan kini resmi berakhir. Langkah menaikkan harga secara agresif dinilai terlalu berisiko karena bisa memicu eksodus wisatawan.

“Bahkan, okupansi yang biasanya menembus 100 persen saja sekarang hanya tertahan di angka 80 hingga 90 persen,” jelas Sujud. Saat ini, hotel kelas melati justru mampu bersaing ketat dan bertahan stabil di angka okupansi 80 persen. Realitas ini menunjukkan bahwa pasar pariwisata saat ini sangat sensitif terhadap harga.

BACA JUGA: Gaya Fashion Jude Bellingham yang Kerap Jadi Inspirasi Generasi Z

Kondisi tidak kalah memprihatinkan terjadi pada sektor hilir seperti pusat oleh-oleh. General Manager Pusat Oleh-Oleh Buah Tangan Didik Sulistyo menegaskan kuantitas belanja pelancong merosot tajam meski standar pelayanan di toko telah ditingkatkan. “Yang mana spend per keranjang belanja tamu saat ini sangat merosot dibanding masa lalu,” bebernya.

Rombongan wisatawan yang biasanya menyumbang omzet jutaan rupiah per bus kini mayoritas hanya datang untuk sekadar melihat-lihat tanpa melakukan transaksi belanja yang signifikan. “Saat ini spend belanja rata-rata hanya Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu saja per bus. Ini sangat jauh dari harapan,” ujarnya.

BACA JUGA: Mengenal Lamine Yamal, Wonderkid yang Diprediksi Bersinar di Piala Dunia 2026

Didik menilai lesunya penjualan ini dipicu bergesernya status Kota Batu di mata konsumen. Kawasan ini dinilai telah kehilangan daya tarik sebagai tujuan utama dan merosot menjadi sekadar titik transit pariwisata. “Mereka punya tujuan utama ke Bali atau Jogja, sehingga di Batu hanya mampir saja. Akibatnya, durasi dan nominal belanja mereka di sini tidak bisa maksimal,” ungkap Didik. (ori/dre)

Editor : Fajar Andre Setiawan
#dampak rupiah anjlok #sektor perhotelan #sektor pusat oleh oleh #inflasi #sektor pariwisata