BUMIAJI, RADAR BATU - Para petani mawar di Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji kian menjerit lantaran harga jual panen mereka macet di angka Rp 1.000 per batang. Stagnasi nominal yang sudah berlangsung selama dua dekade ini menempatkan para penggarap lahan di posisi terjepit di tengah lonjakan ongkos produksi.
Realita pahit stagnasi harga ini diungkapkan langsung oleh Ahmad Yusuf, salah seorang petani sekaligus pengepul mawar di Desa Gunungsari. Pria yang telah menggantungkan nasibnya pada bisnis bunga ini menyebut tren kenaikan harga mawar lokal bergerak sangat lambat bak siput.
BACA JUGA: Cara Mengurus BPJS Kesehatan secara Online melalui Website dan Aplikasi Mobile JKN
“Awal saya merintis tahun 2005 sampai 2010 lalu, harganya Rp 400 sampai Rp 600 per batang. Kemudian merangkak pelan ke Rp 800, Rp 900, dan sekarang mentok macet di seribu rupiah,” keluhnya. Fakta ini menegaskan bahwa selama kurun waktu dua dekade, lonjakan harga di tingkat petani tak sampai menyentuh seribu rupiah.
Macetnya nilai tawar ini membuat produk lokal kalah saing di etalase pasar nasional. Saat disandingkan, harga mawar dari Kota Batu kalah telak dari komoditas asal Bandung yang sukses menembus harga Rp 2.000 hingga Rp 2.500 per batang. Padahal, Yusuf mengklaim kualitas rupa mawar Kota Batu sejatinya sangat mampu diadu.
BACA JUGA: Fenomena Bediding Selimuti Kota Batu, Makanan Ini Mendadak Jadi Buruan
Sayangnya, dorongan untuk meningkatkan kualitas fisik mawar itu langsung berbenturan dengan realitas minimnya modal. Perawatan ekstra menuntut pembengkakan biaya. Sementara harga jual bunga sudah telanjur dikunci sangat murah oleh pasar. “Ini karena para pedagang kompak membeli bunga dengan harga pasaran Rp 1.000 itu," imbuhnya.
Kini, para petani tak punya pilihan selain pasrah menelan kerugian sistemik itu. Namun, petani seperti Yusuf juga berharap ada campur tangan Pemkot Batu untuk memutus mata rantai permainan harga di tingkat tengkulak. (ori/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan