JUNREJO, RADAR BATU - Terpuruknya kurs mata uang nasional hingga menyentuh Rp 18 ribu per dolar AS pada awal Juni ini memicu meroketnya harga Sarana Produksi Pertanian (Saprotan) di Kota Batu. Lonjakan harga pupuk nonsubsidi bervariasi antara 3 hingga 30 persen. Sementara, harga mulsa plastik meroket tajam hingga 40 persen.
Pemilik toko obat pertanian di Kecamatan Junrejo Agus Siswantoro mengatakan kenaikan paling parah terjadi terhadap pupuk ZA nonsubsidi. Harganya dari Rp 260 ribu melonjak tembus Rp 360 ribu. Efek domino terkuat juga menghantam komoditas turunan bahan baku plastik global. Satu gulung mulsa yang awalnya Rp 600 ribu kini naik menjadi Rp 850 ribu.
BACA JUGA: Bangun Tidur tapi Masih Lelah? Ini Tips Tidur Nyenyak agar Tubuh Lebih Segar Saat Bangun
Kondisi serupa terjadi pada fungisida kontak yang melambung 30 persen dari Rp 60 ribu menjadi Rp 80 ribu per bungkus. Disusul kenaikan herbisida sebesar 10-15 persen dan benih sayuran antara 2-5 persen.
Rentetan biaya modal ini otomatis menggerus daya beli. Agus mencatat ada penurunan transaksi sekitar 10 persen karena petani mulai menahan diri membelanjakan modal operasional.
Jeratan harga yang mencekik ini juga diamini Muhammad Afrizal, penjual obat pertanian dan pakan di Desa Tlekung, Kecamatan Junrejo. Ia mencatat harga pupuk nonsubsidi nyaris selalu naik setiap pekannya dengan selisih Rp 10 ribu hingga Rp 30 ribu.
BACA JUGA: Anak Introvert Cocok Masuk Jurusan Apa? Ini Daftar Pilihannya
Di tokonya, harga pupuk ZA kemasan 50 kilogram bahkan menembus rentang Rp 375 ribu hingga Rp 400 ribu. Sementara itu, harga pupuk NPK 16-16-16 ikut melambung dari Rp 700 ribu menjadi Rp 800 ribu per karung. “Obat-obatan jenis pestisida cair pun tak luput dari imbas, naik rata-rata Rp 2 ribu hingga Rp 7 ribu rupiah per botol,” pungkasnya. (Ramyzard Rafsanjani/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan