BATU, RADAR BATU - Geliat hilirisasi susu sapi perah asal Dusun Brau, Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, sukses menembus ekosistem program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG). Melalui langkah inovatif pengolahan susu segar, hasil produksi peternak lokal kini rutin memasok kebutuhan logistik di 10 unit dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) lintas daerah.
Ketua Koperasi Margo Makmur Mandiri Muhammad Munir menyebut strategi peningkatan nilai tambah produk menjadi kunci utama keberhasilan ini. Peternak tidak lagi sekadar menjual susu murni secara eceran. Bahan baku tersebut diolah menjadi produk pasteurisasi dan keju yang aman dikonsumsi.
Serapan produk susu lokal Brau kini mendominasi wilayah Malang Raya hingga merambah daerah tetangga. Munir merinci, distribusi produk mengalir ke lima unit dapur di Kabupaten Malang, dua unit di Kota Malang, serta dua dapur yang tengah dirintis di Kota Batu. Keran permintaan bahkan meluas hingga ke satu dapur SPPG di Kabupaten Mojokerto.
Volume penyerapan masing-masing titik bervariasi. Jumlahnya bergantung pada kapasitas wilayah sasaran. Dalam satu kali siklus pengiriman, sebuah dapur mampu menyedot 1.000 hingga 3.500 cup susu pasteurisasi. Intensitas distribusi berkisar antara satu hingga tiga kali sepekan. Hal itu menyesuaikan rotasi menu makan bergizi di sekolah.
BACA JUGA: Jangan Minder Jadi Introvert, Banyak Jurusan Kuliah yang Justru Membutuhkan Karakter Ini
Dari sisi tata kelola kas, kata Munir, skema bisnis dengan instansi ini diklaim sangat memproteksi permodalan peternak. Koperasi menerapkan kewajiban uang muka sebesar 30 hingga 40 persen di awal transaksi. Sementara, sisa pelunasan langsung dicairkan sesaat setelah barang tiba di lokasi tujuan.
Peluang kemitraan dengan dapur SPPG lain diakui masih sangat terbuka. Munir juga menyediakan opsi logistik fleksibel berupa pengambilan mandiri atau layanan pesan antar dengan penyesuaian biaya angkut. Namun, derasnya arus permintaan ini rupanya memicu kendala operasional di hilir.
Munir mengakui tingginya pesanan belum ditopang fasilitas pabrikasi yang mumpuni. Seluruh proses pasteurisasi hingga pengemasan produk saat ini masih murni mengandalkan tenaga manual. Itulah mengapa peternak kini berpacu dengan waktu menyiapkan proyek pembangunan rumah produksi baru yang dilengkapi fasilitas mesin modern berskala industri. (ori/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan