Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Omzet Pengecer Plastik di Pasar Induk Among Tani Kota Batu Anjlok Separo

Fajar Andre Setiawan • Senin, 25 Mei 2026 | 17:00 WIB
MERUGI: Salah satu pedagang retail plastik menata tumpukan stok barang dagangannya yang tidak terserap pasar di Pasar Induk Among Tani Kota Batu beberapa hari lalu.
MERUGI: Salah satu pedagang retail plastik menata tumpukan stok barang dagangannya yang tidak terserap pasar di Pasar Induk Among Tani Kota Batu beberapa hari lalu.

 

BATU - Guncangan ekonomi makro akibat lonjakan harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah mulai mengoyak stabilitas rantai pasok pedagang eceran di Pasar Induk Among Tani Kota Batu. Kepanikan menghadapi fluktuasi harga yang tidak terkendali tersebut memicu anjloknya omzet pedagang retail plastik hingga 50 persen.

Para pengecer kini terjebak tumpukan stok mahal di tengah lumpuhnya daya beli pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Lutfi, pemilik Toko Plastik Fatimah di Pasar Among Tani terpaksa menelan kerugian akibat terlanjur memborong pasokan saat tren harga mulai menanjak tajam pada Maret lalu.

BACA JUGA: Hidden Gem Cafe di Kota Batu dengan Nuansa Bali yang Memukau

Langkah spekulatif itu didasari kekhawatiran akan kenaikan harga yang tak terbendung. Namun, proyeksi pasar meleset. Harga kantong plastik merah yang semula berada di kisaran Rp 25 ribu sempat meroket dua kali lipat menjadi Rp 50 ribu per pak. Lonjakan ekstrem ini langsung memukul daya beli pelanggannya.

Pelaku UMKM makanan yang biasanya menyerap hingga 10 slot kemasan terpaksa memangkas volume pembelian menjadi lima slot saja. Ironisnya dalam dua pekan terakhir, harga dari pabrikan justru terkoreksi turun ke level Rp 40 ribu. Akibatnya, Lutfi kelimpungan karena harus menjual stok modal mahal dengan harga yang sudah turun.

BACA JUGA: Sekawan Limo 2: Gunung Klawih Siap Tayang, Trailer dan Komentar dari Warganet Bikin Makin Penasaran

“Pelaku UMKM sangat bergantung pada kemasan plastik dan kini mereka kesulitan menekan biaya produksi,” keluh Lutfi. Margin keuntungan UMKM kian tergerus karena kenaikan ini berbarengan dengan mahalnya harga bahan baku pangan. Jika kurva harga tak kunjung melandai, ancaman gulung tikar sulit dihindari.

Ketidakpastian ini memaksa para pengecer merombak strategi bisnis. Mereka kini dilanda keragu-raguan dan memilih menahan modal. Belanja stok dalam jumlah besar dihentikan. Pengecer hanya berani mengambil barang sekadar untuk memenuhi kebutuhan penjualan sepekan ke depan demi menghindari kerugian fluktuasi harga.

BACA JUGA: Kuliner Tradisional yang Tak Pernah Gagal, Rekomendasi Gado-Gado Enak di Kota Batu

Anton Pranoto, salah seorang distributor plastik mengaku kehilangan volume pesanan hingga 40 persen akibat keengganan retail menyerap barang. Harga dasar dari pabrik sejatinya masih tinggi.

Namun, lumpuhnya daya serap pasar memaksa sejumlah distributor membakar margin keuntungan untuk menyubsidi harga jual. “Langkah tersebut melahirkan ketidakstabilan harga baru di pasaran, yang pada akhirnya justru membuat konsumen semakin kebingungan,” pungkas Anton. (aff/dre)

Editor : Fajar Andre Setiawan
#pengecer plastik #omzet anjlok #Pasar Induk Among Tani Kota Batu