BATU, RADAR BATU - Transformasi gaya belanja masyarakat menuju ekosistem nirtunai (cashless) memicu lonjakan drastis perputaran uang digital. Sepanjang tahun ini, rekam jejak transaksi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di Kota Batu menembus angka fantastis hingga Rp 287 miliar.
Ledakan volume transaksi tersebut didominasi pergerakan roda bisnis UMKM yang kini dituntut beradaptasi dengan sistem pembayaran instan. Bank Indonesia (BI) Malang memotret tren eskalasi ini sebagai indikator pulihnya daya beli masyarakat.
BACA JUGA: Ningkali Pujon Tawarkan Konsep Camping dan Grill untuk Akhir Pekan
Setiap bulannya, nilai perputaran uang via QRIS konsisten berada di atas angka Rp 80 miliar. Dari total transaksi tersebut, dominasi 85 persennya mutlak disumbang sektor UMKM wisata. Lonjakan ini merupakan akumulasi pertumbuhan masif dari tahun sebelumnya.
Sepanjang 2025, BI mencatat terjadi 11,8 juta kali transaksi QRIS dengan nilai kumulatif Rp 114 miliar. Angka volume transaksi ini melesat lebih dari dua kali lipat jika disandingkan dengan capaian 2024, yang hanya mencatat 4,9 juta transaksi senilai Rp 92 miliar.
Ekspansi nilai transaksi ini berbanding lurus dengan perluasan infrastruktur alat bayar di lapangan. Kepala Kantor Perwakilan BI Malang Indra Kuspriyadi mencatat adanya lonjakan masif pada jumlah pedagang (tenant) pengguna QRIS.
BACA JUGA: Apa Itu “Brain Dump”? Ini Penjelasan dan Dampaknya Terhadap Siswa
“Hingga April, tercatat ada 686.744 tenant pengguna di Kota Batu. Angka ini melonjak 58 ribu tenant hanya dalam rentang satu bulan terakhir sejak Maret,” beber Indra. Meski angka makro terlihat menjanjikan, euforia digitalisasi ini masih gagap di beberapa lini.
Di pasar tradisional, adopsi QRIS masih merangkak lambat. Kuatnya kultur transaksi tunai peninggalan masa lalu serta area blank spot (minim sinyal internet) menjadi tembok penghambat.
Namun, BI optimistis penetrasi ini akan merata seiring dengan pembenahan infrastruktur telekomunikasi di pelosok desa. Di sisi lain, masifnya perputaran uang digital ini membuka celah kerawanan baru.
BACA JUGA: Sarapan Pecel Emak di Pujon, Sajikan Menu Tradisional dengan Suasana Pegunungana
Tingginya lalu lintas QRIS mulai dimanfaatkan oknum tak bertanggung jawab untuk melakukan manipulasi transaksi. Siti Romlah, pemilik warung kelontong di Desa Beji, Kecamatan Junrejo membenarkan sisi gelap digitalisasi tersebut.
Keberadaan QRIS memang memudahkan transaksi, terutama bagi wisatawan luar kota. Namun, ia pernah menjadi korban penipuan pembeli nakal yang memanipulasi tangkapan layar (struk) bukti transfer.
Menghadapi celah keamanan itu, pedagang kecil mulai membentengi diri secara mandiri. “Saya akhirnya menyiasati dengan membeli alat pengeras suara yang bisa menyebutkan nominal transfer secara otomatis,” pungkasnya. (aff/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan