BATU, RADAR BATU - Pasar hewan kurban di Kota Batu tahun ini mengalami penurunan drastis. Menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, lapak-lapak pedagang justru sepi pembeli meski stok kambing dan sapi melimpah. Kondisi itu membuat para pedagang dihantui ancaman kerugian besar hingga terpaksa bersiap menjual rugi selepas hari raya.
Kabul, pedagang hewan kurban di kawasan Jalan Sultan Agung, mengaku tahun ini menjadi periode terburuk selama dirinya berjualan kambing dan sapi kurban. Dari 200 ekor kambing Jawa yang ia siapkan, baru 25 ekor yang berhasil terjual hingga pertengahan Mei ini.
Padahal pada periode yang sama tahun lalu, penjualannya sudah menembus 150 ekor.
BACA JUGA: Wisata di Kota Batu yang Wajib Dikunjungi Saat Long Weekend
“Tahun ini merosot paling drastis, padahal harga yang dipatok masih terhitung rasional,” keluh Kabul. Harga kambing reguler di lapaknya dijual mulai Rp 2,5 juta per ekor. Sementara kambing ukuran jumbo dipasarkan hingga Rp 8 juta. Namun, harga itu tetap gagal mendongkrak minat pembeli.
Kelesuan juga terjadi di lapak miliknya di kawasan Jalan Wukir, Kelurahan Temas. Dari seluruh stok yang tersedia, baru tiga ekor kambing yang laku. Penjualan sapi di wilayah Bumiaji pun tak jauh berbeda. Dari 16 ekor sapi jenis Limusin dan Brahman dengan harga Rp 25 juta hingga Rp 30 juta per ekor, baru enam ekor yang berhasil dipesan.
BACA JUGA: Dokter Sampaikan Kondisi Andrie Yunus, Sidang Tuntutan Penyiraman Air Keras Ditunda
Kondisi ini memperparah beban pedagang karena biaya operasional harian terus berjalan. Harga pakan ternak yang tinggi membuat pedagang harus mengeluarkan biaya tambahan setiap hari di tengah penjualan yang macet.
Jika situasi tak berubah hingga Idul Adha, Kabul mengaku siap melakukan aksi dumping dengan memangkas harga hingga Rp 500 ribu per ekor demi menghabiskan stok. “Kalau mendekati hari H masih sepi, ya terpaksa dijual rugi supaya modal bisa kembali,” ujarnya.
BACA JUGA: Serasa Liburan ke Jogja, Ini Tempat Makan Bernuansa Joglo yang Adem dan Instagramable di Kota Batu
Fenomena serupa dirasakan pedagang lain, Subhan. Ia memilih mengurangi jumlah stok tahun ini untuk menghindari risiko kerugian lebih besar. Dari 22 ekor kambing yang ia siapkan, baru lima ekor yang laku dalam sepekan terakhir.
“Tahun lalu seminggu buka minimal laku 10 sampai 15 ekor. Sekarang cari satu pembeli saja susah,” katanya. Lesunya pasar kurban ini memunculkan dugaan melemahnya daya beli masyarakat akibat tekanan ekonomi yang belum stabil. (ori/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan