Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Pasar Sempit, Pertanian Organik di Kota Batu Masih Jalan di Tempat

Rori Dinanda Bestari • Kamis, 30 April 2026 | 14:07 WIB
NONKIMIA: Salah seorang petani merawat tanaman organik di greenhousenya di Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji beberapa waktu lalu.
NONKIMIA: Salah seorang petani merawat tanaman organik di greenhousenya di Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji beberapa waktu lalu.

BATU, RADAR BATU - Transisi ke pertanian organik di Kota Batu belum sepenuhnya menjanjikan. Petani masih menghadapi hambatan utama berupa sempitnya pasar dan rendahnya daya beli. Padahal tren kesadaran hidup sehat mulai tumbuh. Kondisi ini membuat banyak petani ragu beralih dari sistem konvensional. Selain risiko pasar, biaya awal juga tidak kecil.

CEO Smart Agriculture Ecosystem Cooperative (CooSAE) Rakhmad Hardiyanto menyebut persoalan utama bukan pada produksi, melainkan pasar. “Pertanian organik itu soal perubahan pola pikir. Tantangannya bukan hanya iklim, tapi daya beli pasar yang masih rendah,” ujarnya.

Selama ini, konsumen produk organik masih terbatas. Segmennya cenderung spesifik, seperti pelaku gaya hidup sehat atau program diet. Meski begitu, ia melihat mulai ada peningkatan kesadaran. Tren ini diharapkan memperluas pasar dalam jangka panjang.

Baca Juga: Masa Depan Pertanian di Tengah Gejolak Alih Fungsi Lahan (11): Dari Hortikultura ke Tanaman Bunga

Kendala lain muncul dari biaya sertifikasi. Untuk mendapatkan label organik resmi, petani harus mengeluarkan biaya lebih dari Rp30 juta untuk luasan tertentu. “Ini jadi beban tambahan, terutama bagi petani kecil,” tambahnya.

Sejumlah upaya mulai dilakukan untuk memperluas akses pasar. Produk seperti alpukat hass dan stroberi sudah masuk jaringan ritel modern seperti Superindo, serta dipasarkan hingga Jakarta melalui Sweet Green Indonesia.

Ia berharap sektor hotel, restoran, dan kafe (horeka) ikut menyerap produk lokal organik. “Kalau sektor horeka masuk, pasar bisa lebih terbuka,” katanya.

Baca Juga: Khawatir Ancam Sumber Air, Warga Sumberbrantas Protes Sumur Bor Milik Perusahaan Pertanian

Di tingkat petani, sistem organik justru menawarkan efisiensi biaya. Widjianto, petani di Desa Giripurno mengaku tidak lagi bergantung pada pupuk kimia. Ia memanfaatkan limbah organik dan kotoran ternak sebagai kompos. Alhasil, biayanya jauh lebih murah.

Selain itu, harga produk organik cenderung stabil. Saat panen raya, harga tidak jatuh seperti komoditas konvensional. “Selada keriting sempat Rp1 ribu per kilogram di pasar, kami tetap di Rp15 ribu,” ujarnya.

Stabilitas harga juga terlihat saat komoditas melonjak. Ketika harga cabai tembus Rp100 ribu per kilogram, produk organik relatif lebih terkendali. Namun, keunggulan ini belum cukup mendorong ekspansi besar. (ori/dre)

Editor : A. Nugroho
#Coosae #tanaman organik #horeka #kota batu