BATU, RADAR BATU - Lonjakan harga LPG nonsubsidi turut menekan sektor perhotelan di Kota Batu yang sedang dalam fase bertahan. Kenaikan biaya energi memicu pembengkakan operasional, terutama di dapur dan layanan laundry.
Harga LPG menunjukkan kenaikan signifikan. Tabung 5,5 kilogram naik dari Rp90 ribu menjadi Rp107 ribu. Sementara tabung 12 kilogram melonjak dari Rp192 ribu menjadi Rp228 ribu. Selisih puluhan ribu rupiah ini langsung membebani struktur biaya hotel.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batu Sujud Hariadi mengatakan kenaikan harga berdampak langsung pada biaya produksi, khususnya sektor food and beverage (F&B). “Sebagian besar hotel di Kota Batu masih bergantung pada LPG. Belum banyak yang beralih ke CNG,” ujarnya.
BACA JUGA: Belum Ada Gerai KDMP yang Beroperasi, Operasional Mandiri Klaim Laba Sudah Mulai Tampak
Ketergantungan ini membuat dampak kenaikan semakin luas. LPG tidak hanya digunakan untuk kebutuhan dapur, tetapi juga untuk operasional mesin pengering di bagian laundry.
Meski biaya meningkat, pelaku usaha memilih menahan harga. Kenaikan tarif dinilai berisiko menurunkan minat tamu.
“Kami tidak bisa serta-merta menaikkan harga F&B maupun tarif kamar,” kata Sujud. Di tengah daya beli yang belum pulih, penyesuaian harga dikhawatirkan justru menekan tingkat hunian. Jika okupansi turun, pendapatan hotel bisa ikut tergerus.
BACA JUGA: Operasional Gate Parkir Alun-Alun Kota Batu Tak Jelas, Netizen Sebut sebagai Proyek Mubazir
Kondisi ini menempatkan pelaku usaha pada posisi dilematis. Di satu sisi, biaya operasional naik. Di sisi lain, ruang untuk menaikkan harga sangat terbatas. Pelaku usaha berharap ada stabilitas harga energi dalam waktu dekat.
Kepastian harga dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan usaha di sektor pariwisata. “Kami berharap harga bisa kembali stabil agar operasional lebih terkendali,” pungkasnya. (ori/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan