BATU - Laju pertumbuhan ekonomi di Kota Batu terus menunjukkan rapor merah. Berdasarkan data yang diakumulasi Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batu, laju ekonomi menunjukkan tren perlambatan selama dua tahun berturut-turut. Pada 2025 lalu, angka pertumbuhan ekonomi Kota Batu hanya mampu melaju di angka 4,85 persen saja.
Angka tersebut berada di bawah rata-rata pertumbuhan ekonomi Jawa Timur yang mencapai 5,33 persen. Kondisi ini menempatkan Kota Batu di jajaran enam daerah dengan pertumbuhan terendah di Jawa Timur. Padahal, sebelumnya Kota Batu hampir selalu konsisten di urutan 10 besar daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi.
Kepala BPS Kota Batu Herlina Prasetyowati Sambodo menilai perlambatan laju ekonomi itu menjadi kondisi yang tidak biasa. Pasalnya, hal itu terjadi setelah ekonomi sempat menguat pada periode pascapandemi 2022 hingga 2023 silam. "Pertumbuhan ekonomi 2024-2025, memang mengalami kontraksi, terutama di triwulan ketiga," ungkapnya.
Penyebab utama lesunya ekonomi adalah penurunan performa lima sektor utama penyumbang produk domestik regional bruto (PDRB). Di antaranya pertanian, penyediaan akomodasi dan makan minum, hingga sektor konstruksi. Kelimanya sebenarnya menjadi sektor andalan yang kini tak punya daya dorong bagi pertumbuhan ekonomi daerah.
Krisis yang paling mencolok terlihat pada sektor pertanian. Padahl pertania menjadi sektor tumpuan sebagian besar warga lokal. Pertumbuhan di sektor tersebut turun drastis dari angka 0,93 persen pada 2024 menjadi hampir stagnan di angka 0,03 persen pada 2025.
Hal itu sekaligus mencerminkan tantangan di tengah perubahan dinamika ekonomi dan lahan di wilayah pegunungan. Sektor pariwisata yang selama ini menjadi tulang punggung utama Kota Batu pun tak luput dari hantaman krisis.
Bidang perhotelan atau akomodasi diperkirakan mengalami penurunan aktivitas hingga 30 persen sepanjang 2025. "Hal ini terjadi karena di triwulan ketiga jumlah kunjungan wisatawan yang mempunyai multiplayer effect mengalami penurunan signifikan," jelasnya.
Sektor konstruksi juga menunjukkan tren yang serupa akibat adanya penangguhan berbagai proyek pembangunan. Kebijakan efisiensi pemerintah dalam menunda proyek infrastruktur berdampak langsung pada serapan tenaga kerja dan perputaran uang di sektor tersebut.
Akibatnya, kontribusi konstruksi terhadap pertumbuhan ekonomi kota menjadi jauh lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Herlina menjelaskan minimnya momen libur panjang pada triwulan ketiga menjadi titik nadir bagi pergerakan ekonomi daerah.
Tidak adanya hari raya keagamaan atau libur panjang sekolah membuat sektor pendukung seperti hotel dan restoran kehilangan momentum. Hal inilah yang membedakan kinerja ekonomi di triwulan ketiga dibandingkan periode lainnya.
Kondisi triwulan ketiga sangat kontras dengan triwulan kedua dan keempat. Sebab, kedua periode tersebut biasanya terdongkrak momen Idul Fitri serta Natal dan Tahun Baru (Nataru). Kedatangan wisatawan memberikan suntikan dana segar yang mampu meningkatkan pendapatan daerah secara instan.
Dari sisi pengeluaran, pelemahan ekonomi ini juga dipicu menurunnya tingkat konsumsi rumah tangga secara signifikan. Belanja pemerintah juga tercatat mengalami penyusutan bagi perputaran ekonomi lokal.
Kondisi tersebut tak ditampik Wali Kota Batu Nurochman. Menurutnya, ketahanan sektor unggulan daerah masih menjadi bantalan agar ekonomi tidak merosot lebih dalam. "Meski terdampak efisiensi anggaran nasional, ekonomi tetap terjaga berkat ketahanan sektor pariwisata," ujar pria yang akrab disapa Cak Nur tersebut.
Walau begitu, Cak Nur memberikan catatan keras bagi internal Pemkot Batu. Dirinya menyoroti angka keterserapan anggaran yang masih rendah di kisaran 86 persen sebagai salah satu faktor penghambat. Rendahnya serapan itu dinilai menyumbat perputaran modal di tengah masyarakat sehingga pertumbuhan tidak berjalan maksimal.
"Kami terus mendorong seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk memacu penyerapan APBD guna menekan angka SiLPA," tegasnya. Menurut Cak Nur, eksekusi anggaran yang cepat dan tepat sasaran adalah kunci utama untuk memompa gairah ekonomi warga.
Editor : Fajar Andre Setiawan