BATU - Karakter ekonomi berbasis jasa membuat kebijakan kerja dari rumah sulit diterapkan. Pelaku usaha di Kota Batu tetap menjalankan Work From Office (WFO) pada 2026 di Kota Batu, meski ada imbauan Work From Home (WFH) dari pemerintah daerah.
BACA JUGA 226 CJH Asal Kota Batu Siap Berangkat 22 April
Sebagian besar sektor usaha dinilai membutuhkan kehadiran fisik tenaga kerja. Hal ini terutama terjadi pada industri pelayanan dan produksi. Pengurus Serikat Pekerja Seluruh Indonesia Kota Batu Heru Subagio menilai kebijakan WFH tidak bisa disamaratakan. Setiap sektor memiliki kebutuhan operasional yang berbeda.
“Kalau industri pengolahan susu, kerja dari rumah bisa menurunkan produksi,” ujarnya. Menurut dia, sektor pariwisata sebagai tulang punggung ekonomi Batu juga tidak memungkinkan menerapkan WFH. Operasional destinasi wisata bergantung pada kehadiran langsung pekerja.
“Di tempat seperti Batu Secret Zoo, pekerja harus merawat satwa di lokasi,” katanya. Hal serupa terjadi pada sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Banyak usaha pengolahan makanan dan oleh-oleh masih mengandalkan proses manual. Produksi keripik buah, olahan apel, hingga dapur kuliner tidak bisa dipindahkan ke sistem kerja jarak jauh.
Di sektor perhotelan, efisiensi sudah lebih dulu dilakukan. Penurunan daya beli dan tekanan ekonomi global memaksa pelaku usaha mengatur ulang operasional. Sebagian hotel menerapkan sistem kerja bergilir untuk menekan biaya tanpa melakukan pemutusan hubungan kerja. “Shift karyawan sudah diatur karena omzet turun,” jelasnya.
BACA JUGA WFH Perusahaan di Batu Tak Boleh Pangkas Gaji, Disnaker Tegaskan Hak Pekerja Harus Utuh
Kendala lain terletak pada infrastruktur. Konektivitas internet di wilayah perbukitan dan sentra pertanian belum merata. Hal ini membuat WFH tidak efektif bagi sebagian pekerja.
Pelaku usaha berharap pemerintah lebih fleksibel. Efisiensi energi tetap bisa dilakukan tanpa harus memaksakan WFH.
Alternatifnya, perusahaan dapat mendorong penggunaan transportasi umum atau kendaraan listrik. Pandangan serupa disampaikan pelaku industri perhotelan dan restoran. Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Kota Batu Sujud Hariadi menilai WFH tidak relevan untuk sektor layanan.
“Tidak mungkin tamu dilayani dari rumah,” ujarnya. Meski hanya bersifat imbauan, pelaku usaha meminta kebijakan disesuaikan dengan karakter daerah. Sinkronisasi antara efisiensi energi dan keberlangsungan usaha dinilai menjadi kunci agar sektor wisata tetap bergerak.
Editor : Fajar Andre Setiawan