MALANG KOTA - Lonjakan jumlah mahasiswa di Kota Malang tak sekadar menjadi angka statistik. Di balik itu, bisnis kos-kosan tumbuh pesat dan menjelma sebagai salah satu penopang ekonomi warga di sekitar kampus.
Data mencatat, terdapat 151.224 mahasiswa aktif di kampus negeri di Kota Malang. Setiap tahun, sekitar 38 ribu mahasiswa baru datang. Hal itu menciptakan permintaan hunian sementara yang nyaris tak pernah surut.
Fenomena ini dirasakan langsung oleh Abina, pemilik kos di kawasan Jalan Candi. Ia mengubah rumah warisan keluarga menjadi indekos putra dengan 12 kamar. “Kalau penuh, omzet kotor bisa sekitar Rp 13 juta per bulan,” ujarnya.
Ia menerapkan sistem sewa fleksibel. Untuk kamar berisi dua orang dipatok Rp 1,1 juta per bulan, sedangkan penghuni tunggal dikenai Rp 600 ribu. Fasilitas yang disediakan tergolong standar, mulai perabot dasar, dapur bersama, hingga Wi-Fi.
Meski harus menanggung biaya perawatan dan iuran lingkungan, Abina menilai bisnis kos jauh lebih menjanjikan dibandingkan pekerjaan formal. Tren serupa juga berkembang di kalangan warga yang memiliki lahan strategis di radius satu hingga 3 kilometer dari kampus.
Kos-kosan kini menjadi sumber passive income yang semakin diminati. Tak hanya skala rumahan, pengembang besar juga mulai melirik sektor ini. Salah satu pengembang di kawasan Jalan Sigura-gura,memproyeksikan kos eksklusif dengan 13 kamar mampu menghasilkan omzet hingga Rp 312 juta per tahun.
Angka tersebut dengan tingkat pengembalian investasi (ROI) sekitar 12 persen. Pesatnya bisnis ini juga tercermin dalam riset Universitas Muhammadiyah Malang melalui Jurnal Ilmu Ekonomi (JIE) edisi Februari 2023.
Penelitian di kawasan Bukit Cemara Tujuh (BCT) menunjukkan, kos-kosan telah menjadi mata pencaharian utama warga. Pendapatan pemilik kos skala kecil tercatat berkisar Rp 2 juta hingga Rp 3,9 juta per bulan.
Pasca pandemi, sekitar 90 persen responden mengaku mengalami kenaikan pendapatan signifikan. Menariknya, mayoritas pemilik kos juga berencana meningkatkan fasilitas. Hal ini dilakukan untuk menjaga daya saing di tengah ketatnya pasar hunian mahasiswa.
Editor : Fajar Andre Setiawan