BATU, RADAR BATU - Angka ekspor Kota Batu pada 2025 lalu sekilas tampak menjanjikan. Padahal, struktur dagang daerah secara umum belum sepenuhnya kuat. Dari realisasi perdagangan senilai Rp24,12 miliar, porsi terbesar masih ditopang pengiriman antarpulau di dalam negeri sebesar Rp20 miliar. Sementara, ekspor hanya sebesar Rp4,112 miliar saja.
Artinya, ekspor langsung ke pasar luar negeri masih minim. Data itu sekaligus menunjukkan capaian nilai ekspor belum sepenuhnya mencerminkan daya tembus produk lokal Kota Batu di pasar internasional.
Sekitar Rp20 miliar berasal dari pengiriman hortikultura ke Kalimantan Timur oleh perusahaan Cooperative Smart Agriculture Ecosystem (Coosae). Produk yang dikirim mencakup sekitar 14 jenis sayur. Sebagian pasokan bahkan turut diambil dari wilayah sekitar seperti Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang.
BACA JUGA: Antisipasi Lonjakan Arus Balik Lebaran 2026, Tol Trans Jawa Terapkan One Way tahap II
“Untuk pengiriman ke luar negeri yang tertinggi dari Arjuna Club Indonesia. Nominalnya mencapai Rp2,1 miliar,” ujar Edwin Dwi Sasongko, Pelaksana Pengolah Data dan Informasi Ekspor dan Impor Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskumperindag) Kota Batu Edwin Dwi Sasongko.
Arjuna Club Indonesia menjadi penyumbang ekspor luar negeri terbesar dengan produk keripik buah, ubi, dan sayuran olahan. Produk itu dikirim ke Singapura, Malaysia, dan Kanada dengan nilai sekitar Rp2,1 miliar.
Eksportir lain ialah Delta Raya yang mengirim mebel kayu ke Jepang dan Amerika Serikat dengan nilai sekitar Rp1,06 miliar. Lalu, Kokedama mengekspor pot tanaman berbahan serabut ke Jepang senilai sekitar Rp447 juta. CV Kusuma Wijaya mengekspor tanaman hias ke Tiongkok senilai sekitar Rp 459 juta.
BACA JUGA: Konsep Mikutopia Batu Disorot Pakar Pariwisata UM, Begini Komentarnya
Ada pula Koperasi Margo Makmur Mandiri yang tercatat sebagai tambahan pelaku ekspor baru pada 2025. Produk yang dibawa ialah susu fermentasi dan keju mozzarella dengan nilai penjualan sekitar Rp46 juta lewat sebuah pameran di Malaysia.
Namun, capaian itu masih perlu dibaca hati-hati. Ia mengakui tambahan pelaku ekspor baru itu belum sepenuhnya masuk ke pasar internasional dalam skema dagang reguler. Penjualan masih dilakukan dalam format pameran, belum berupa pasokan rutin ke pasar tujuan.
“Sebenarnya penambahan tahun lalu juga belum benar-benar berhasil menyentuh pasar internasional,” tegasnya. Karena itu, angka penambahan eksportir belum otomatis menandakan penguatan ekspor yang mapan. Sebagian masih berada pada tahap promosi pasar, uji respons konsumen, atau penjualan insidental.
BACA JUGA: Tanggung Jawab atas Kasus Penyiraman Air Keras oleh Prajuritnya, Kepala BAIS TNI Mundur dari Jabatan
Di sisi lain, pengiriman Coosae ke Kalimantan Timur memang bernilai besar. Namun, yang perlu dingat, praktik dagang tersebut tetap masuk kategori distribusi domestik, bukan ekspor luar negeri.
Meski begitu Edwin menyebut pendataan untuk perencanaan ekspor oleh Coosae sudah mulai dilakukan. Itu termasuk pendataan pengiriman produk lokal antarpulau yang kini sudah dilakukan secara aktif.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa tantangan ekspor Kota Batu bukan hanya membuka pasar. Namun, juga menaikkan kelas pelaku usaha dari perdagangan domestik dan event promosi menuju kontrak dagang lintas negara yang berkelanjutan.
BACA JUGA: UPT Sempat Tegur 4 Calo Uji Kir, Keluhan Pengujian Kendaraan Berlanjut
Masalah lain datang dari rantai pasok. Pada sektor mebel, misalnya, kendala utama masih berada pada bahan baku. Kota Batu bukan daerah penghasil kayu, sehingga pasokan harus didatangkan dari luar daerah, seperti dari Blitar. Ketergantungan itu membuat kapasitas produksi rentan terganggu.
Di luar faktor internal, tekanan juga datang dari situasi global. Edwin menyebut gejolak di kawasan Timur Tengah dan hubungan dagang dengan Amerika memaksa sebagian pelaku usaha melakukan penyesuaian pasar. Pengiriman ke Amerika, misalnya, mulai dikurangi.
BACA JUGA: UPT Balai Uji Kir Kota Batu Akui Pernah Tegur 4 Calo Uji Kir
Sebagian pasar dialihkan ke negara lain yang dinilai lebih stabil. Sebagian lagi diarahkan ke pasar domestik. “Seperti yang ke Amerika untuk saat ini tentu ada penyesuaian, ada pengurangan,” ungkapnya.
Sekretaris Diskumperindag Kota Batu Nurbianto Puji menambahkan potensi komoditas unggulan daerah sebenarnya cukup besar. Produk yang dinilai punya peluang antara lain mebel, sayur-mayur, tanaman hias, serta makanan olahan UMKM.
Namun, peluang itu kini berhadapan dengan biaya logistik yang terus naik. Persoalan ini menjadi makin berat ketika jalur distribusi melewati kawasan transit yang terdampak gejolak geopolitik. “Jika biaya operasional di titik-titik distribusi tersebut membengkak, keuntungan para eksportir lokal Kota Batu dipastikan akan tergerus habis,” ujarnya.
BACA JUGA: Parade Mobil Hias Baloga Ramaikan Libur Lebaran
Karena itu, pemerintah daerah menyiapkan skenario penyesuaian pasar agar pelaku usaha tetap bertahan. Salah satunya dengan mendorong eksportir mengalihkan tujuan pengiriman ketika jalur tertentu tidak lagi efisien.
Tahun ini, Pemkot Batu menargetkan ada dua pelaku usaha baru yang mampu melakukan ekspor. Target itu sama dengan capaian penambahan eksportir pada 2025 lalu. Namun pekerjaan rumah yang lebih penting bukan sekadar menambah jumlah pelaku. Yang lebih mendesak ialah memastikan pelaku usaha benar-benar naik kelas. (dia/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan