BATU - Perubahan pola transaksi masyarakat kian mengarah ke digital. Sepanjang 2025, penggunaan QRIS di Kota Batu melonjak tajam hingga dua kali lipat. Capaian itu didorong aktivitas wisata dan pelaku UMKM. Data Bank Indonesia mencatat, volume transaksi QRIS mencapai 11,8 juta kali pada 2025.
Angka ini naik signifikan dari 4,9 juta transaksi pada 2024, atau meningkat sekitar 140 persen. Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Malang Indra Kuspriyadi menilai pertumbuhan ini dipengaruhi karakter Kota Batu sebagai destinasi wisata. “Potensi wisata besar membuat adopsi digital lebih cepat diterima,” ujarnya.
Menurut dia, sektor kuliner, fesyen, dan industri kreatif menjadi penopang utama penggunaan QRIS. Sekitar 70 persen merchant berasal dari pelaku UMKM. Hal ini menunjukkan inklusi keuangan digital mulai menjangkau lapisan usaha kecil. Meski volume transaksi melonjak, nilai nominal justru cenderung stagnan.
Pada 2024, total transaksi tercatat Rp123,4 miliar. Sementara pada 2025 turun menjadi Rp114,4 miliar. Kondisi ini mengindikasikan perubahan perilaku konsumen. QRIS kini lebih sering digunakan untuk transaksi kecil sehari-hari, bukan sekadar pembayaran bernilai besar.
Penggunaan QRIS juga meluas di pasar tradisional dan pusat kuliner, termasuk kawasan sekitar Alun-Alun Kota Batu. Digitalisasi ini mempermudah wisatawan bertransaksi tanpa uang tunai. “Kami terus dorong penguatan ekosistem digital, khususnya di wilayah wisata,” kata Indra.
Di tingkat pedagang, tren ini semakin terasa. Ketua Paguyuban PKL Alun-Alun Kota Batu Puspita Herdysari menyebut hampir separuh pelanggan kini menggunakan QRIS. “Terutama akhir pekan, wisatawan langsung tanya pembayaran QRIS,” ujarnya.
Pengguna didominasi kalangan muda dan keluarga yang terbiasa dengan layanan perbankan digital. Namun, sebagian pedagang berusia lanjut masih belum sepenuhnya mengadopsi sistem ini.
Ia berharap ada dukungan edukasi agar adopsi QRIS lebih merata. Di sisi lain, penggunaan QRIS juga memunculkan tantangan baru. Salah satunya terkait arus kas pedagang. Dana hasil transaksi umumnya baru diterima pada hari berikutnya. Kondisi ini menuntut pedagang tetap memiliki cadangan uang tunai untuk operasional harian. (ori/dre)
Editor : Fajar Andre Setiawan