BATU - Permintaan akomodasi jelang Lebaran di Kota Batu belum bergerak signifikan. Hingga H-4 Idul Fitri 2026 kemarin (17/3), tingkat okupansi vila dan homestay masih berada di kisaran 30 persen. Kondisi ini jauh di bawah capaian tahun sebelumnya pada periode yang sama. Saat itu, tingkat hunian sudah menembus sekitar 60 persen.
Ketua Indonesia Home Stay Association (IHSA) Kota Batu Natalina mengatakan tren pemesanan tahun ini melambat. Penurunan terjadi meski periode Lebaran biasanya menjadi puncak kunjungan wisata. “Kalau tahun lalu di fase ini sudah sekitar 60 persen. Sekarang masih 30 persen,” ujarnya.
BACA JUGA: Rumah Kosong Jadi Sasaran Maling, Polres Batu Berikan Strategi Pengamanan Efektif
Ia menilai perubahan perilaku konsumen menjadi faktor utama. Wisatawan kini cenderung menunda pemesanan hingga mendekati hari keberangkatan. Strategi itu dilakukan untuk mendapatkan harga lebih murah. Pengelola akomodasi biasanya memberikan diskon pada sisa kamar menjelang hari H.
“Tamu sekarang lebih sabar. Mereka menunggu harga turun saat mendekati waktu liburan,” katanya. Selain itu, faktor cuaca dan kondisi ekonomi juga memengaruhi keputusan wisatawan. Ketidakpastian membuat calon tamu lebih berhati-hati dalam merencanakan perjalanan.
BACA JUGA: Hybrid Retail Jadi Masa Depan, Pakar UB Sebut Toko dan Pasar yang Tak Go Digital Akan Ditinggal
Situasi ini menjadi tantangan bagi pelaku usaha vila dan homestay. Mereka harus mencari cara untuk menarik minat pasar di tengah persaingan yang semakin ketat. Salah satu strategi yang ditempuh adalah memperkuat promosi digital. Konten media sosial dan visibilitas di platform pencarian menjadi kunci untuk menjangkau calon tamu.
Pengelola juga diminta lebih waspada terhadap keamanan digital. Pengawasan akun bisnis dan situs resmi diperketat untuk menghindari peretasan maupun praktik pemesanan fiktif.
BACA JUGA: Coaster Lebaran di JTP 3 Siap Uji Adrenalin Wisatawan
Di sisi lain, pelaku usaha masih berharap pada lonjakan pemesanan mendadak atau last minute booking. Puncak kunjungan diperkirakan terjadi pada periode 22-28 Maret.
Rentang waktu tersebut dinilai menjadi masa krusial sebelum aktivitas sekolah kembali normal. Meski pasar belum sepenuhnya pulih, pelaku usaha tetap optimistis tingkat hunian dapat meningkat pada puncak libur Lebaran. “Kami berharap satu minggu sebelum sekolah masuk, okupansi bisa penuh meski saat ini pergerakannya masih lambat,” pungkas Natalina.
Editor : Fajar Andre Setiawan