Berita Terbaru Ekonomi & Bisnis Kesehatan Kriminal Lifestyle Malang Raya Nusantara Olahraga Opini Pemilu 2024 Pendidikan Peristiwa Sosok Teknologi Wisata & Kuliner

Cuaca Ekstrem, Ancaman Jamur Hantui Petani Kentang dan Tomat di Kota Batu

Zanadia Manik Fatimah • 2026-03-18 10:30:09
DIHANTUI JAMUR: Salah seorang petani asal Desa Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji, baru selesai memberikan obat pada tanaman kentang saat cuaca ekstrem beberapa waktu lalu. ZANADIA MANIK FATIMAH/RADAR BATU
DIHANTUI JAMUR: Salah seorang petani asal Desa Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji, baru selesai memberikan obat pada tanaman kentang saat cuaca ekstrem beberapa waktu lalu. ZANADIA MANIK FATIMAH/RADAR BATU

 

BATU - Cuaca ekstrem yang masih terus berlangsung hingga kemarin (17/3) mulai menekan sektor pertanian di Kota Batu. Petani kentang dan tomat menghadapi peningkatan risiko serangan jamur yang dapat menurunkan produktivitas. Kondisi ini dipicu tingginya curah hujan dan kelembapan udara.

Dampaknya, tanaman rentan mengalami busuk pada daun, batang, hingga umbi dan buah. Petani asal Desa Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji, Masudi, mengatakan cuaca ekstrem sangat memengaruhi kondisi tanaman di lapangan. “Tanaman pasti terpengaruh. Tinggal bagaimana kemampuan petani mengatasinya,” ujarnya.

BACA JUGA: Godok RKPD 2027, Pemkot Batu Pilah Usulan Mendesak Tiap Kecamatan

Menurutnya, serangan jamur paling sering muncul pada bagian daun dan batang. Untuk mengurangi risiko, ia menanam tomat jenis beef di dalam greenhouse. Sementara kentang tetap dibudidayakan di lahan terbuka.

Sejumlah langkah dilakukan untuk menekan serangan penyakit. Di antaranya pengaturan jarak tanam, pengolahan lahan yang tepat, serta peningkatan intensitas penggunaan pestisida. “Di musim hujan, penggunaan pestisida bisa maksimal. Kalau kemarau sekitar 70 persen, sekarang bisa 100 persen,” katanya.

BACA JUGA: Tak Mau Ditinggal Pembeli, Pasar dan Mal di Kota Batu Sama-Sama Andalkan Promosi Digital

Lonjakan penggunaan pestisida berdampak langsung pada biaya produksi. Pada musim kemarau, biaya pestisida kentang berkisar Rp40-45 juta per hektare per musim tanam.

Namun dalam kondisi cuaca ekstrem, biaya meningkat menjadi Rp60-70 juta per hektare.

Kenaikan biaya ini menjadi beban tambahan bagi petani. Di sisi lain, hasil panen tetap sulit diprediksi. Meski begitu, potensi produksi masih bisa terjaga jika tanaman tumbuh optimal. Hasil panen kentang diperkirakan masih berada di kisaran 25-30 ton per hektare.

Petani lain, Nur Aziz, menyebut ancaman jamur memang meningkat signifikan saat cuaca ekstrem. “Kalau pestisida ditambah, risiko kerugian bisa ditekan. Tapi biaya ikut naik,” ujarnya.

BACA JUGA: Panen Susut, Permintaan Naik, Harga Apel di Kota Batu Melonjak

Ia menilai musim hujan menuntut perawatan tanaman lebih intensif. Petani harus lebih telaten untuk menjaga kondisi tanaman tetap sehat. “Merawatnya seperti merawat anak kecil. Harus ekstra perhatian,” tandasnya. 

Editor : Fajar Andre Setiawan
#cuaca eksrem #petani