Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Hybrid Retail Jadi Masa Depan, Pakar UB Sebut Toko dan Pasar yang Tak Go Digital Akan Ditinggal

Zanadia Manik Fatimah • Selasa, 17 Maret 2026 | 09:30 WIB
PR BESAR: Pemerintah Kota Batu Akui Legalitas Usaha Jadi PR Besar. (Sumber: Tugu Malang)
PR BESAR: Pemerintah Kota Batu Akui Legalitas Usaha Jadi PR Besar. (Sumber: Tugu Malang)

BATU - Perubahan pola belanja masyarakat dinilai sedang menggeser wajah bisnis ritel secara mendasar.

 

Pakar ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya, Dias Satria, menegaskan penurunan pengunjung di toko konvensional maupun pasar tradisional bukan semata-mata karena produknya tidak diminati, melainkan karena model bisnisnya sudah tertinggal.

 

Menurut Dias, transformasi digital telah mengubah cara konsumen menemukan, membandingkan, hingga membeli produk. Saat ini perjalanan belanja masyarakat banyak dimulai dari marketplace, media sosial, dan berbagai platform digital lain.

Baca Juga: DPUPR Kota Batu Langsung Perbaiki Jalan Suropati Hari Ini setelah Dipilox Warga

Akibatnya, pelaku usaha yang hanya mengandalkan penjualan secara konvensional berisiko kehilangan pasar karena produk mereka tidak muncul dalam pencarian digital konsumen.

 

“Barangnya ada, tapi tidak terlihat dalam pencarian digital konsumen. Akhirnya tidak diketahui calon pembeli,” ujarnya.

 

Dias menilai masa depan bisnis ritel tidak lagi memisahkan toko fisik dan penjualan digital. Model yang dinilai paling realistis adalah hybrid retail, yakni penggabungan antara pengalaman belanja langsung dan distribusi lewat kanal digital.

Baca Juga: Jelang Mudik Lebaran 2026, Pemudik Diminta Jaga Tubuh dan Bawa Kotak P3K

Menurut dia, toko offline tetap penting untuk membangun pengalaman dan kepercayaan konsumen. Sementara kanal online berfungsi meningkatkan visibilitas produk sekaligus memicu pembelian ulang.

 

Offline untuk experience dan trust. Online untuk visibility dan repeat order,” katanya.

Ia menegaskan, yang kini sesungguhnya mengalami kemunduran bukan tempat belanjanya, melainkan model bisnis lama yang hanya bertumpu pada transaksi jual beli barang.

Baca Juga: Lippo Plaza Batu Diserbu Pengunjung Selama Ramadan

Ke depan, ritel yang mampu bertahan adalah yang berubah menjadi destination space, yaitu tempat yang bukan sekadar dipakai berbelanja, tetapi juga menawarkan pengalaman kuliner, hiburan, komunitas, dan gaya hidup.

 

Retail harus menjadi ruang pengalaman. Ada kuliner, hiburan, komunitas, dan lifestyle,” ujarnya.

 

Dias memprediksi, bila tren digital terus berlanjut, dunia ritel akan mengalami polarisasi. Pasar dan mal yang gagal beradaptasi berpotensi mengalami penurunan pengunjung, sedangkan model hybrid retail akan menjadi format dominan di masa depan. (dia/dre)

Editor : Admin
#marketplace #Pasar Induk Among Tani Batu #lippo plaza batu