Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Di Tengah Megahnya Pasar Induk Among Tani, Hanya Tersisa Satu Toko Buku yang Masih Bertahan

A. Nugroho • Minggu, 7 Desember 2025 | 20:15 WIB
MASIH BERTAHAN: Toko Buku Yena menjadi satu-satunya toko buku yang masih aktif di Pasar Induk Among Tani. Beberapa toko lainnya memilih tutup lantaran sepi peminat.
MASIH BERTAHAN: Toko Buku Yena menjadi satu-satunya toko buku yang masih aktif di Pasar Induk Among Tani. Beberapa toko lainnya memilih tutup lantaran sepi peminat.

BATU - Di tengah megahnya bangunan Pasar Induk Among Tani, denyut literasi ternyata kian melemah. Dari puluhan kios yang dulu menawarkan buku bacaan, kini hanya satu yang masih bertahan. Kios itu yakni Toko Buku Yena yang berada di Blok 9 Lantai 2 nomor 043-044 yang sudah berdiri sejak 2009 silam.

 

Saat wartawan koran ini menelusuri area Pasar Induk kemarin (1/12), nyaris tak ada kios buku lain yang buka. Hanya Toko Buku Yena yang buka dan sekaligus menjadi toko paling besar karena memiliki dua kios. Pemilik Toko Buku Yena, Nanan Wahyudi, mengaku membuka kios mulai pukul 08.00-15.00 meski sering pula tutup lebih cepat.

 

“Kalau tetangga kios sudah bersiap pulang, saya biasanya ikut kemas-kemas juga,” katanya. Menurut Nanan, penjualan buku di pasar kini merosot tajam hingga 60 persen. Lonjakan pembeli hanya terjadi saat hari libur. Selebihnya, ia biasa menerima satu atau dua pembeli saja bahkan kadang tak ada sama sekali.

 

Meski begitu, koleksi buku yang ia jual tetap beragam. Mulai novel, komik, majalah, kamus, buku umum, resep, hingga buku-buku antik dari berbagai negara. Ia juga menjual kaset lama dan alat tulis. “Yang paling sering dicari biasanya buku cerita anak, novel, dan koleksi buku lama,” jelasnya.

 

Harga buku yang ia tawarkan berkisar Rp5-100 ribu. Selain buku baru, ia juga menjual buku bekas. Dia mengaku bersyukur lantaran masih ada pelanggan setia yang datang mencari buku. Di tengah gempuran platform digital dan belanja daring, Nanan memilih tetap bertahan bukan semata demi pendapatan.

 

Baginya, kios ini adalah ruang hidup, sekaligus saksi perjalanan literasi di tengah perubahan pasar. Ia mengaku bertahan karena panggilan hati di tengah banyak kios buku yang memilih tutup atau mengalihkan jenis dagangan. Meski tinggal satu, keberadaan Toko Buku Yena menjadi pengingat bahwa ruang literasi di pasar tradisional belum sepenuhnya hilang. (dia/dre)

Editor : A. Nugroho
#satu toko buku masih bertahan #pasar induk among