BATU - Membangun karakter pebisnis tangguh menjadi poin penting dalam Indonesia Islamic Business Forum (IIBF) yang digelar di Hotel Kusuma Agrowisata kemarin (28/8). Forum diskusi tersebut dihadiri pelaku usaha dari berbagai daerah se-Indonesia. Agenda utamanya membahas lemahnya pertumbuhan sektor ekonomi dan penurunan daya beli.
Isu itu sejauh ini mendapat perhatian khusus dari Pemerintah Kota (Pemkot) Batu. Itulah mengapa forum tersebut juga diikuti sebagai saranan merumuskan langkah strategis dalam menggenjot pertumbuhan ekonomi dan perbaikan iklim bisnis. Founder IIBF Heppy Trenggono menilai seorang pebisnis harus memiliki karakter, kreatif, dan inovatif.
Sehingga itu bisa membuat pelaku usaha memiliki daya tahan dan daya saing. Baginya pebisnis harus pintar membaca peluang dan berani menjadi beda. Terutama untuk menciptakan inovasi bisnis tertentu. Baik secara konsep maupun produk. “Dengan forum ini kami berharap bisa bertukar langkah strategis dengan sesama mitra usaha,” tegasnya.
Wali Kota Batu Nurochman mengatakan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sejauh ini cukup efektif dalam menggerakkan roda perekonomian masyarakat. Bahkan, sektor tersebut memberikan kontribusi signifikan terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) Kota Batu sebesar Rp 20,2 triliun.
Selain itu, juga menyumbang pertumbuhan ekonomi daerah sebesar 47,43 persen. Artinya, geliat UMKM sangat berpengaruh terhadap kondisi ekonomi di Kota Batu. Pria yang akrab disapa Cak Nur itu mengaku cukup khawatir di tengah badai penurunan daya beli saat ini. “Melalui forum ini kami akan rumuskan solusinya,” tegasnya.
Bagi pria asli Desa Sumberejo, Kecamatan Batu itu, forum diskusi dengan pelaku usaha se-Indonesia itu juga dimanfaatkan untuk mengenalkan UMKM lokal ke pasar yang lebih luas. Sehingga, pemasaran tak hanya berkutat di Malang Raya saja. “Kami tawarkan produk dari Kota Batu kepada pengusaha dari berbagai daerah,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur Iwan menambahkan kondisi ekonomi secara makro tumbuh sekitar 5,32 persen. Sebanyak 96,7 persen di antaranya disumbang sektor UMKM. “Bahkan, Jatim memberikan kontribusi 14 persen PDB nasional terbesar kedua setelah Jakarta,” tuturnya.
Dengan capaian itu, Iwan optimistis pelaku usaha dapat menyongsong perekonomian yang lebih baik. Tak hanya berkekuatan daya saing secara nasional namun juga mampu menembus pasar internasional. (ori/dre)
Editor : A. Nugroho