RADAR BATU - Perusahaan asal Korea Selatan, LG Chem dan LG Energy Solution, secara resmi mengumumkan pembatalan investasi senilai Rp 128,84 triliun dalam proyek ekosistem baterai kendaraan listrik (EV) di Indonesia.
Proyek besar tersebut sebelumnya dirancang untuk mencakup seluruh rantai pasok baterai EV, mulai dari pengadaan bahan baku, produksi prekursor, material katoda, hingga pembuatan sel baterai.
Keputusan ini menjadi pukulan bagi ambisi Indonesia dalam mengembangkan industri kendaraan listrik nasional.
Baca Juga: 26 Restoran Baru di Kota Batu Bakal Jadi Sasaran WP Baru
Alasan pembatalan menurut pernyataan resmi dari LG Energy Solution, keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan kondisi pasar global dan lingkungan investasi yang dinilai kurang mendukung.
Salah satu faktor utama adalah adanya perlambatan permintaan kendaraan listrik secara global, yang membuat investasi ini kurang menguntungkan dalam jangka pendek.
Fenomena ini dikenal sebagai EV chasm, yaitu stagnasi sementara dalam permintaan kendaraan listrik di pasar internasional.
Proyek ini sebelumnya melibatkan kerja sama antara LG dan beberapa perusahaan BUMN Indonesia untuk membangun rantai pasok baterai EV secara menyeluruh.
Baca Juga: Nasabah Prioritas BCA, BRI, dan Mandiri: Berapa Minimal Saldo yang Harus Dipenuhi?
Indonesia, sebagai salah satu produsen nikel terbesar di dunia, semula diharapkan menjadi pusat produksi baterai EV yang strategis.
Akan tetapi, dengan pembatalan ini, rencana besar tersebut harus ditunda.
Meski demikian, LG menegaskan bahwa mereka tetap melanjutkan proyek baterai EV yang sudah berjalan di Indonesia.
Salah satunya adalah pabrik baterai Hyundai LG Indonesia Green Power (HLI Green Power) di Karawang, Jawa Barat, yang merupakan hasil kerja sama dengan Hyundai Motor Group.
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM, Tri Winarno, menyatakan kekecewaannya terhadap keputusan LG.
Ia mempertanyakan kesungguhan LG dalam berinvestasi di Indonesia, mengingat proses penjajakan investasi ini telah berlangsung bertahun-tahun tanpa hasil yang konkret.
Baca Juga: Harga Kedelai di Junrejo Terus Merangkak
Tri juga menyoroti ketidaktepatan waktu LG dalam memenuhi target yang telah ditetapkan oleh pemerintah Indonesia.
Pembatalan investasi ini menjadi tantangan besar bagi Indonesia dalam menarik investor asing untuk mendukung pengembangan industri kendaraan listrik.
Pemerintah diharapkan dapat mengevaluasi iklim investasi agar tetap kompetitif di tengah perubahan lanskap industri global.
Meski demikian, Indonesia tetap memiliki potensi besar dalam industri baterai EV, terutama dengan cadangan nikel yang melimpah. (fi)
Editor : A. Nugroho