BATU - Wabah penyakit mulut dan kaki (PMK) sudah berlalu.
Namun, dampaknya masih dirasakan peternak Kota Batu sampai sekarang.
Terutama dalam hal produksi susu.
Sebab, sekarang setiap sapi hanya bisa memproduksi susu sebanyak 14 liter saja per harinya.
Padahal, sebelum wabah PMK menyerang produksinya bisa mencapai 25 liter per hari.
Untuk itu, peternak berharap Pemerintah Kota (Pemkot) Batu bisa memberikan bantuan bibit sapi unggul dari luar negeri.
Ketua KUD Kota Batu Ismail Hasan mengatakan pemulihan produktivitas susu harus segera dilakukan.
Ia menilai hal itu bisa dicapai dengan memberikan bibit sapi unggul.
Sebab, selama ini perkembangbiakan sapi juga ikut terhambat.
Alias proses kawin jarang berhasil membuat sapi menjadi bunting.
Bahkan, proses kawin suntik pun kini lebih banyak gagalnya.
“Ada yang yang pernah kawin suntik sampai lima kali tapi tidak berhasil juga,” ujarnya.
Ismail mengaku pengadaan bibit sapi unggul harus melalui bantuan pemerintah.
Pasalnya, peternak tidak mampu melakukannya secara mandiri.
Apalagi saat ini harga satu bibit sapi unggu bisa mencapai Rp 50 juta.
Namun, ia optimistis hal itu akan bisa mendongkrak produksi susu di Kota Batu.
“Kalau sapi unggul produksi susunya masih bisa mencapai 25-30 liter setipa harinya,” ungkapnya.
Pihaknya menyampaikan bibit sapi saat ini diperoleh dari wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah saja.
Untuk itu, Ismail berharap ada bantuan dari pemerintah untuk memberikan bibit sapi unggul dari luar negeri.
Dia mengklaim kebutuhannya mencapai 1.000 ekor. (iza/dre)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana