Kabel Tanam Lebih Andal, Namun Perbaikan Lebih Rumit

Rori Dinanda Bestari • Dipublikasikan Kamis, 29 Oktober 2026 | 15:00 WIB
MENGGELANTUNG: Salah satu reklame tampak menggantung pada kabel listrik di Jalan Ir Soekarno kemarin (23/5).
MENGGELANTUNG: Salah satu reklame tampak menggantung pada kabel listrik di Jalan Ir Soekarno kemarin (23/5).

BATU, RADAR BATU – Penataan kabel listrik bawah tanah di Kota Batu dinilai dapat meningkatkan keandalan jaringan, tetapi membutuhkan perencanaan teknis yang matang.

PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) mengingatkan, penanganan gangguan kabel tanam lebih rumit karena petugas harus menemukan titik kerusakan secara presisi sebelum melakukan perbaikan.

Baca Juga: Carmen Hearts2Hearts Gunakan Seragam SMA Indonesia Miliknya di Acara Talk Show Korea Buatan Mnet

Asisten Manajer Jaringan Distribusi PLN Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Malang Vandy Faizal Putra mengatakan, secara fungsional kabel bawah tanah memiliki perlindungan lebih baik dibandingkan jaringan udara.

“Secara fungsional, memang kabel tanam ini memiliki tingkat keandalan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kabel udara,” terangnya.

Baca Juga: Prediksi Cuaca Kota Batu 29 Oktober: Berkabut Sejak Dini Hari dan Suhu Tertinggi 24 Derajat

Jaringan udara, seperti Saluran Udara Tegangan Menengah (SUTM) dan Saluran Udara Tegangan Rendah (SUTR), relatif lebih mudah diperiksa secara visual ketika terjadi gangguan.

Sebaliknya, kerusakan pada kabel bawah tanah membutuhkan investigasi untuk mengetahui lokasi dan penyebab gangguan.

Baca Juga: Jadwal Salat Kota Batu 29 Oktober 2026

Vandy menyebut, alat pendeteksi gangguan yang dibutuhkan belum tersedia di Malang Raya. Jika terjadi keadaan darurat, peralatan tersebut harus didatangkan dari kantor regional di Surabaya.

Kondisi itu membuat desain infrastruktur dan sistem pemeliharaan perlu disiapkan sejak awal. Jalur kabel harus terdokumentasi dengan baik agar petugas dapat mengidentifikasi posisi jaringan ketika melakukan perbaikan.

Baca Juga: Tak Hanya Bakso, 3 Kuliner Berkuah di Batu untuk Menghangatkan Badan

Persoalan lain ialah kemungkinan benturan dengan infrastruktur bawah tanah yang sudah ada. Kabel listrik harus ditempatkan dengan memperhitungkan jaringan telekomunikasi, pipa air, serta saluran drainase.

Karena itu, Pemkot Batu perlu memastikan apakah sistem ducting akan dibangun sebagai jalur terpadu atau terpisah untuk masing-masing pengelola utilitas. Sinkronisasi tata ruang, termasuk Daerah Milik Jalan (Damija), juga menjadi bagian penting dalam perencanaan.

Baca Juga: Pakistan Resto di Sumbersari Malang, Sajikan Kebab hingga Chicken Butter

Migrasi jaringan turut memerlukan pengaturan waktu. Menurut Vandy, pemindahan dapat dilakukan tanpa pemadaman berkepanjangan apabila pembangunan jalur bawah tanah berlangsung bersamaan dengan pengoperasian jaringan udara yang sudah ada.

“Kalau bisa seiring, kabel udara tetap berjalan, kabel tanam melakukan proses penggalian, maka pemadaman tidak akan lama. Cuma waktunya tetap tergantung kondisi lapangan dan seberapa besar cakupan wilayah yang diubah,” pungkasnya.

Baca Juga: 4 Tempat Makan Lalapan di Batu, Ada yang Buka sampai Tengah Malam

Dengan skema tersebut, jaringan lama tetap dapat melayani pelanggan selama infrastruktur baru disiapkan. Meski demikian, durasi migrasi tetap bergantung pada panjang bentang, luas wilayah, jenis kabel, dan kondisi lapangan.

Dukungan PLN terhadap penataan kabel bawah tanah pada akhirnya bergantung pada kesiapan desain teknis dan sistem pemeliharaan.

Keandalan jaringan tidak hanya ditentukan oleh kabel yang terlindungi di bawah tanah, tetapi juga oleh kemampuan petugas menemukan gangguan dan memulihkan layanan secara cepat.

Editor : Fajar Andre Setiawan
Provider kabel menjuntai pln