Hama Thrips Ancam Kualitas Bunga Potong di Kota Batu

Rori Dinanda Bestari • Dipublikasikan Minggu, 25 Oktober 2026 | 16:00 WIB
MASIH PRODUKTIF: Sejumlah petani melakukan penyortiran bunga di kawasan Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji beberapa waktu lalu. (RORI DINANDA BESTARI/RADAR BATU)
MASIH PRODUKTIF: Sejumlah petani melakukan penyortiran bunga di kawasan Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji beberapa waktu lalu. (RORI DINANDA BESTARI/RADAR BATU)

BUMIAJI, RADAR BATU - Petani bunga potong di Kota Batu menghadapi tantangan ganda di tengah tingginya permintaan pasar. Kemarau panjang membatasi pasokan air irigasi. Panas ekstrem juga sekaligus meningkatkan risiko serangan hama thrips yang merusak kualitas bunga.

Koordinator Pemasok Bunga Potong Kota Batu Jumadi mengatakan, kondisi cuaca sangat memengaruhi kualitas fisik bunga yang siap dipasarkan ke berbagai daerah. Salah satu gangguan yang banyak dikeluhkan petani ialah serangan thrips.

Baca Juga: Kerugian Karhutla Tak Berakhir Saat Api Padam, Pemulihan Hutan Bisa 100 Tahun

“Hama tersebut berukuran kecil seperti kutu yang merusak bagian tanaman. Bekas serangannya bikin kelopak bunga ada bercak cokelat gitu,” jelasnya. Serangan hama tersebut tidak hanya terjadi pada tanaman hias.

Thrips juga ditemukan pada berbagai komoditas pertanian di kawasan dataran tinggi. Meski obat kimia pembasmi hama tersedia di pasaran, penggunaannya terkendala keterbatasan air.

Menurut Jumadi, petani yang memiliki sistem irigasi teknis lebih mudah mengendalikan serangan hama dengan menggenangi lahan dan menyemprotkan obat pembasmi.

Baca Juga: Penanjakan Bromo Kembali Dibuka, Wisatawan Wajib Patuhi Aturan Ini

Sebaliknya, petani yang mengandalkan lahan kering menghadapi kesulitan karena air untuk perawatan tanaman semakin terbatas. Kondisi itu diperparah penurunan debit air dari Himpunan Penduduk Pemakai Air Minum (HIPPAM) desa.

Pengelola harus memprioritaskan pasokan untuk kebutuhan rumah tangga. Hal itu membuta kebutuhan irigasi kebun belum bisa terpenuhi secara optimal. “Jadi mau nggak mau di kebun dibiarkan, pokoknya hidup dulu aja. Dimaksimalkan dan tetap berusaha,” paparnya.

Baca Juga: Ganja 5 Kg Dikirim lewat Ekspedisi

Jumadi juga merasakan perbedaan pola cuaca dibandingkan tahun lalu. Pada Agustus hingga September tahun sebelumnya, hujan masih kerap turun. Sementara tahun ini, kemarau berlangsung lebih panjang tanpa curah hujan yang berarti.

Dampaknya turut dirasakan pemasok bunga potong lainnya, Yulia asal Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji. Menurut dia, kekurangan air membuat ukuran bunga mengecil. Padahal permintaan dari luar daerah sedang tinggi.

Baca Juga: Gunung Semeru Erupsi 6 Kali, Kolom Abu Capai 1.200 Meter pada Jumat Pagi

“Kekurangan air bikin bunganya tidak besar dan cenderung kecil. Padahal, permintaan dari luar daerah lagi besar-besarnya,” ungkapnya. Kondisi tersebut menempatkan petani pada posisi sulit.

Mereka harus menjaga kualitas panen untuk memenuhi permintaan pasar. Namun, di waktu yang sama mereka juga menghadapi keterbatasan air yang menghambat perawatan tanaman dan penanganan hama.

Editor : Fajar Andre Setiawan
Hama Tanaman Petani Batu Bunga Potong kota batu