BATU, RADAR BATU - Kenaikan prevalensi stunting di Kota Batu menjadi perhatian Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Data bulan timbang Agustus 2026 menunjukkan prevalensi mencapai 12,75 persen atau 1.260 anak dari 9.880 anak yang diukur.
Angka tersebut naik 2,36 poin persentase dibandingkan Agustus 2025 yang berada di angka 10,39 persen. DPRD meminta Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu menjelaskan lebih lanjut penyebab kenaikan sekaligus perkembangan penanganannya.
Baca Juga: 2 Hari Lagi, Ini Rundown dari Konser Pita Kita 2026
Ketua Komisi B DPRD Kota Batu Asmadi mengatakan pihaknya akan menggelar rapat dengar pendapat atau hearingdengan Dinkes. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan data dan memantau progres program penanganan.
“Kami akan menggelar hearing dengan Dinkes untuk memastikan angka tersebut sekaligus memantau progres penanganan yang mereka lakukan,” ujarnya.
Baca Juga: Digelar di 9 Kota Indonesia, Ini Deretan Film yang Akan Tayang di Japanese Film Festival 2026
Asmadi meminta stunting tetap menjadi prioritas di tengah efisiensi anggaran. Menurutnya, persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan pertumbuhan fisik anak, tetapi juga dapat berdampak pada perkembangan anak secara lebih luas.
Karena itu, dia mendorong intervensi dilakukan secara menyeluruh. Penanganan tidak boleh hanya mengandalkan pangan medis atau makanan tambahan setelah anak terdeteksi mengalami stunting.
Baca Juga: Agensi Rumah Tangga Berhasil Raih 1 Juta Penonton dalam 15 Hari Tayang
Pengawasan asupan makanan, edukasi pola asuh, pemantauan pertumbuhan, serta pencegahan dan penanganan penyakit perlu berjalan bersamaan.
Keterlibatan keluarga dan kader di tingkat lingkungan juga dinilai penting. Pemantauan sejak bayi dan anak di bawah dua tahun menjadi salah satu bagian yang dilakukan Dinkes melalui bidan desa dan kader Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK).
Baca Juga: Sedang Suka dengan Seseorang dalam Diam? Ini 4 Lagu JKT48 yang Cocok untuk Kamu
Dinkes sendiri memetakan penyebab stunting berdasarkan faktor spesifik dan sensitif. Faktor spesifik berkaitan dengan kondisi medis atau penyakit penyerta. Sedangkan faktor sensitif berhubungan dengan pola asuh dan lingkungan.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kota Batu Hasanatul Mardiyah Hisyam mengatakan penanganan disesuaikan dengan kondisi masing-masing anak. Anak dengan faktor medis tertentu dapat dirujuk kepada dokter spesialis anak.
Baca Juga: Ranking FIFA Garuda Turun, Malaysia Sudah Nggak Sabar Main di GBK!
Sementara itu, orang tua atau wali yang menghadapi faktor sensitif mendapatkan edukasi terkait pola asuh dan pemenuhan kebutuhan anak.
Asmadi juga menyinggung data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) yang menurutnya menempatkan Kota Batu di antara daerah dengan angka stunting terendah di Jawa Timur.
Baca Juga: Berburu Cokelat di Batu, Moodco Punya Banyak Pilihan buat Buah Tangan
Menurut dia, posisi tersebut tetap perlu dicermati bersama Dinkes melalui evaluasi program yang telah berjalan.
Kenaikan dari 10,39 persen menjadi 12,75 persen menjadi alasan evaluasi diperlukan. Pemerintah daerah perlu memastikan intervensi yang berjalan mampu mendeteksi gangguan pertumbuhan lebih dini sekaligus menangani penyebabnya.
Editor : Fajar Andre Setiawan