Stunting Kota Batu Naik Jadi 12,75 Persen

Indah Mei Yunita • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 14:30 WIB
Grafis Angka Pravelensi Stunting di Kota Batu
Grafis Angka Pravelensi Stunting di Kota Batu

BATU, RADAR BATU - Prevalensi stunting di Kota Batu mencapai 12,75 persen pada bulan timbang Agustus 2026. Dari 9.880 anak yang diukur, sebanyak 1.260 anak terdeteksi mengalami stunting.

Angka tersebut meningkat 2,36 poin persentase dibandingkan bulan timbang Agustus 2025 yang tercatat 10,39 persen.

Baca Juga: Digelar di 9 Kota Indonesia, Ini Deretan Film yang Akan Tayang di Japanese Film Festival 2026

Kenaikan itu menjadi perhatian Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu karena menunjukkan adanya peningkatan gangguan pertumbuhan anak yang terdeteksi saat pemantauan.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kota Batu Hasanatul Mardiyah Hisyam mengatakan, salah satu kondisi yang ditemukan saat pengukuran adalah banyak anak sedang sakit.

Baca Juga: Agensi Rumah Tangga Berhasil Raih 1 Juta Penonton dalam 15 Hari Tayang

“Bulan Agustus 2025 lalu, prevalensi stunting sebesar 10,39 persen. Sehingga prevalensinya meningkat 2,36 persen,” ujarnya.

Menurut Hasanatul, kondisi sakit dapat memengaruhi pertumbuhan anak. Namun, stunting tidak disebabkan satu faktor saja.

Baca Juga: Sedang Suka dengan Seseorang dalam Diam? Ini 4 Lagu JKT48 yang Cocok untuk Kamu

Asupan gizi yang tidak sesuai kebutuhan, pola asuh, serta riwayat infeksi berulang juga perlu diperhatikan. Karena itu, Dinkes menganalisis kondisi anak berdasarkan penyebab, usia, dan riwayat pertumbuhannya.

Anak yang tinggi badannya tidak mengalami peningkatan dalam beberapa kali pengukuran menjadi kelompok yang mendapat perhatian lebih lanjut.

Baca Juga: Ranking FIFA Garuda Turun, Malaysia Sudah Nggak Sabar Main di GBK!

“Bagi anak yang sudah terkena stunting, kami memberikan susu pangan olahan untuk Keperluan Medis Khusus (PKMK) atas rekomendasi dokter spesialis anak,” katanya.

Pemberian pangan medis tersebut tidak dilakukan secara umum. Intervensi diberikan berdasarkan rekomendasi dokter dan kondisi masing-masing anak.

Baca Juga: Berburu Cokelat di Batu, Moodco Punya Banyak Pilihan buat Buah Tangan

Hasanatul membagi penyebab stunting menjadi faktor spesifik dan sensitif. Faktor spesifik berkaitan dengan kondisi medis atau penyakit penyerta. Sementara faktor sensitif lebih berhubungan dengan pola asuh dan lingkungan anak.

Jika ditemukan faktor spesifik, anak akan dirujuk kepada dokter spesialis anak. Sedangkan jika berkaitan dengan faktor sensitif, orang tua atau wali mendapat edukasi untuk memperbaiki pola pengasuhan dan pemenuhan kebutuhan anak.

Baca Juga: Cari Dessert Dingin di Batu? Ada Silky Dessert yang Bisa Jadi Teman Jalan

Pendampingan juga dilakukan sejak awal kehidupan. Bayi dan anak di bawah dua tahun dipantau melalui bidan desa dan kader Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK).

Pemberian makanan tambahan (PMT), termasuk makanan sumber protein seperti telur, juga menjadi bagian intervensi. 

Editor : Fajar Andre Setiawan
stunting kota batu dinkes kota batu