BATU, RADAR BATU — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) disebut ikut meningkatkan penyerapan hasil pertanian dan peternakan lokal melalui dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mencontohkan harga jeruk lokal di Kota Batu yang disebut naik dari sekitar Rp5 ribu menjadi Rp14 ribu per kilogram.
Hal itu disampaikan Sudaryono saat menghadiri Rembug Paripurna Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) di Kota Batu. Menurut dia, keberadaan SPPG tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan gizi penerima MBG, tetapi juga menciptakan permintaan terhadap komoditas yang dihasilkan petani dan peternak di daerah.
Jeruk Lokal Disebut Terserap SPPG
Sudaryono mengatakan, tingginya kebutuhan bahan baku untuk dapur SPPG membuat sejumlah komoditas pertanian dan peternakan lokal ikut terserap. Kota Batu menjadi salah satu daerah yang memasok kebutuhan tersebut.
Baca Juga: Cegah Keracunan Terulang, Dinkes Kota Batu Wajibkan Sampel MBG Minimal 250 Gram
Salah satu komoditas yang disorot adalah jeruk. Sudaryono menyebut harga jeruk lokal yang sebelumnya berada di kisaran Rp5 ribu per kilogram kini mencapai Rp14 ribu per kilogram. Kenaikan tersebut, menurut dia, berkaitan dengan penyerapan komoditas sebagai bahan baku kebutuhan gizi harian SPPG.
“Contohnya, harga jeruk lokal yang sebelumnya sempat anjlok di kisaran Rp5 ribu per kilogram, kini melesat naik hingga mencapai Rp14 ribu per kilogram karena terserap sebagai penyuplai bahan baku gizi harian,” paparnya.
Meski demikian, angka tersebut merupakan contoh yang disampaikan Sudaryono dalam kegiatan tersebut. Besaran dampak penyerapan MBG terhadap harga komoditas secara keseluruhan masih memerlukan pengukuran lebih lanjut.
Petani Diminta Publikasikan Dampak MBG
Selain membahas serapan komoditas, Sudaryono meminta petani, peternak, dan pengurus KTNA ikut menyampaikan dampak ekonomi yang mereka rasakan dari pelaksanaan MBG.
Baca Juga: Siswi 16 Tahun di Sumut Diduga Alami Gangguan Ingatan Akibat Keracunan MBG
Menurut dia, informasi mengenai penyerapan produk lokal perlu diketahui masyarakat agar gambaran mengenai pelaksanaan program tidak hanya muncul dari sisi persoalan atau kritik.
“Ini harusnya dipublikasikan, impact positif ini harusnya juga disebarluaskan, jangan hanya berita negatif saja,” tegasnya.
Sudaryono menilai peningkatan permintaan dari SPPG dapat memberikan kepastian pasar bagi petani dan peternak. Namun, keberlanjutan dampak tersebut bergantung pada kebutuhan bahan baku SPPG, pola pengadaan, serta kemampuan produksi komoditas di daerah.
Editor : Aditya Novrian