BATU, RADAR BATU - Rendahnya minat generasi muda menjadi petani di Kota Batu dinilai tidak cukup diatasi melalui pelatihan dan sertifikasi.
Ketua Komisi C Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Batu Dewi Kartika mengatakan, pemerintah perlu membenahi persoalan ekonomi yang membuat profesi petani kurang menarik bagi anak muda.
Menurut Dewi, hasil pertanian yang belum memberikan pendapatan menjanjikan menjadi salah satu penyebab generasi muda enggan meneruskan pekerjaan orang tuanya.
Baca Juga: Jalan Cepat 30 Menit Sehari Ternyata Bisa Menurunkan Risiko Kematian, Ini Kata Peneliti - Radar Batu
“Mungkin dengan menghilangkan sistem tengkulak yang menyebabkan penjualan hasil pertanian kurang menjanjikan mereka bisa tertarik,” ucapnya.
Karena itu, pemerintah diminta memperkuat akses pasar. Petani harus memiliki lebih banyak pilihan dalam menjual hasil panen agar tidak sepenuhnya bergantung pada tengkulak.
Dewi juga mendorong optimalisasi subsidi pupuk, obat-obatan, dan sarana prasarana pertanian. Dukungan tersebut dinilai dapat menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan daya tarik usaha tani.
Baca Juga: South Park Singgung GTA VI di Episode Terbarunya, Malah Jadi Harapan Warga Amerika - Radar Batu
“Subsidi pupuk, obat-obatan, dan sarana prasarana pertanian juga bisa dimaksimalkan untuk mendukung regenerasi petani,” katanya.
Selain dukungan ekonomi, Dewi menilai pendidikan pertanian perlu diperluas. Beasiswa bagi generasi muda yang mengambil jurusan pertanian dapat menjadi salah satu cara memperkenalkan teknologi dan metode pertanian modern.
Sementara itu, Pemerintah Kota Batu mengalokasikan sekitar Rp 500 juta untuk pembinaan dan sertifikasi petani muda tahun ini.
Baca Juga: Water Bombing Gagal, Karhutla Gunung Butak dan Kawinajang Tembus 700 Hektare - Radar Batu
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan-KP) Kota Batu Hendry Suseno mengatakan, Rp 200 juta dialokasikan untuk pelatihan Petani Muda Berdaya. Sedangkan Rp 300 juta digunakan untuk sertifikasi kompetensi petani.
Pembinaan dilakukan melalui program Abang Tani Kelas dan Petani Muda Berdaya. Sekitar 300 petani telah mendapat pembinaan sejak program tersebut berjalan.
Materi yang diberikan mencakup teknologi pertanian modern, penghitungan biaya dan keuntungan, pembacaan tren pasar, pemilihan komoditas bernilai ekonomi, serta pemahaman standar produk untuk masuk pasar ritel modern.
Baca Juga: Erupsi Dini Hari Tadi, Gunung Ili Lewotolok Semburkan Abu Setinggi 600 Meter - Radar Batu
“Dengan pembinaan ini, kami bermaksud mengubah pola pikir mereka bahwa bertani merupakan bisnis yang berorientasi pasar global,” ujar Hendry.
Distan-KP juga memperkenalkan smart farming berbasis Internet of Things (IoT). Teknologi tersebut telah diuji coba di Desa Sumberbrantas dan Pandanrejo.
Namun, efektivitas program tetap bergantung pada kemampuan pemerintah memastikan hasil pertanian memiliki pasar dan pendapatan yang layak. Tanpa pembenahan sisi ekonomi, pelatihan berisiko hanya menambah keterampilan tanpa meningkatkan minat generasi muda.
Editor : Fajar Andre Setiawan