BATU, RADAR BATU – Program pembinaan petani muda di Kota Batu dinilai belum cukup efektif menarik generasi muda ke sektor pertanian.
Ketua Komisi C Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Batu Dewi Kartika mengatakan, pemerintah perlu membenahi akar persoalan regenerasi petani. Salah satunya rendahnya daya tarik ekonomi profesi tersebut.
Pemkot Batu tahun ini mengalokasikan sekitar Rp 500 juta untuk pelatihan dan sertifikasi petani muda. Namun, Dewi menilai anggaran tersebut harus diikuti kebijakan yang mampu membuat usaha tani lebih menjanjikan.
“Regenerasi bukan hanya persoalan menambah jumlah anak muda yang turun ke sawah,” katanya.
Baca Juga: Erupsi Dini Hari Tadi, Gunung Ili Lewotolok Semburkan Abu Setinggi 600 Meter - Radar Batu
Menurut Dewi, banyak anak muda enggan menjadi petani karena hasil pertanian dinilai belum memberikan pendapatan yang menarik. Karena itu, pelatihan keterampilan saja tidak cukup untuk menyelesaikan persoalan regenerasi.
“Mungkin dengan menghilangkan sistem tengkulak yang menyebabkan penjualan hasil pertanian kurang menjanjikan mereka bisa tertarik,” ucapnya.
Dewi mendorong pemerintah memperkuat ekosistem ekonomi petani. Salah satunya melalui kemudahan akses pasar agar petani tidak sepenuhnya bergantung pada tengkulak.
Ia juga mendukung pemberian beasiswa bagi generasi muda yang mengambil pendidikan pertanian. Menurutnya, pendidikan dapat memperkenalkan teknologi dan metode pertanian yang sesuai dengan perkembangan zaman.
“Subsidi pupuk, obat-obatan, dan sarana prasarana pertanian juga bisa dimaksimalkan untuk mendukung regenerasi petani,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan-KP) Kota Batu Hendry Suseno mengatakan, pembinaan petani muda telah dilakukan sejak 2024.
Baca Juga: Siap Menyambut Sinefil Malang, Jakarta World Cinema 2026 akan Berlanjut ke Malang - Radar Batu
Program tersebut diawali melalui Abang Tani Kelas dan dikembangkan menjadi Petani Muda Berdaya. Sekitar 300 petani telah mendapat pembinaan melalui berbagai program.
Materi pembinaan mencakup teknologi pertanian, pengelolaan usaha, perhitungan biaya dan keuntungan, pembacaan tren pasar, serta pemilihan komoditas bernilai ekonomi.
Hendry berharap petani muda yang telah dibina dapat menularkan pengetahuan kepada kelompok tani lain.
“Harapan kami bisa getok tular ke petani lainnya supaya manfaatnya bisa merata,” ujarnya.
Editor : Fajar Andre Setiawan