BATU, RADAR BATU - Regenerasi petani di Kota Batu masih berjalan lambat. Dari sekitar 18.000 petani, baru 2.500 orang berusia 19-39 tahun. Artinya, kelompok petani muda hanya sekitar 13,89 persen. Mayoritas tenaga pertanian masih berasal dari kelompok usia di atas 40 tahun. Pemkot pun mendorong modernisasi pertanian untuk menarik lebih banyak generasi muda.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan-KP) Kota Batu Hendry Suseno mengatakan data tersebut merupakan hasil sensus pertanian 2024. Jumlah petani muda yang relatif kecil menunjukkan regenerasi masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah. “Total ada 18 ribu petani. Namun, yang berusia muda 19-39 tahun hanya 2.500 orang,” ujarnya.
Menurut Hendry, minat generasi muda terhadap profesi petani masih rendah. Sebagian masih memandang bertani sebagai pekerjaan yang kotor dan kurang bergengsi. Akibatnya, anak muda cenderung memilih pekerjaan sebagai karyawan, baik di perkantoran maupun pabrik. Padahal, sektor pertanian memiliki peluang ekonomi yang tinggi.
Baca Juga: Kenapa Membalas Chat Terasa Melelahkan? Ini Penjelasan di Balik Conversation Fatigue - Radar Batu
Hendry menilai pertanian sangat potensial bila dikelola dengan pendekatan bisnis dan teknologi. Menurutnya, keterbatasan jumlah petani muda tidak otomatis menunjukkan pertanian Kota Batu tertinggal dari sisi teknologi. Ia menyebut sekitar 13.000 petani telah mampu beradaptasi dengan teknologi pertanian.
“Kemampuan tersebut tidak hanya dimiliki petani muda, tetapi juga petani lanjut usia,” ujarnya. Menurut data BPS, ada 13.000 petani yang mampu beradaptasi dengan teknologi, baik usia muda maupun lansia. Salah satu teknologi yang mulai dapat diterapkan adalah Internet of Things (IoT).
Teknologi itu memungkinkan aktivitas pertanian dilakukan melalui sistem yang terhubung internet. Mulai penyiraman, pemberian nutrisi, hingga pemantauan kelembapan. Kebutuhan tenaga kerja pengelola lahan pun dapat ditekan. Hendry mencontohkan penggunaan sistem penyiraman otomatis yang memungkinkan pekerjaan dilakukan lebih efisien.
Baca Juga: Dikira Album Baru, Drake Malah Rilis Film Hampir Satu Jam Lewat FOMO - Radar Batu
“Dengan IoT, petani muda bisa melakukan semuanya sendiri dengan mudah. Sebab, semuanya sudah dilakukan sistem atau disebut smart farming,” ujarnya. Modernisasi dinilai penting untuk mengubah citra profesi petani. Pertanian tidak lagi semata mengandalkan tenaga fisik. Namun, juga kemampuan mengelola teknologi dan membaca kondisi lahan.
Namun, teknologi bukan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan usaha tani. Pemilihan komoditas juga harus disesuaikan dengan kondisi geografis dan cuaca. Di Desa Sumberbrantas misalnya, petani banyak menanam kentang. Sementara, di wilayah yang lebih rendah seperti Desa Pendem, komoditas padi lebih dominan.
Petani juga menyesuaikan tanaman dengan musim. Nyamin, petani Desa Sumberbrantas, misalnya, melakukan pergantian komoditas hingga tiga kali dalam setahun. “Selama kemarau ini menanam kentang, sedangkan saat penghujan saya tanam wortel. Satunya saya lupa, tetapi yang jelas harus terus bergantian setiap musim,” katanya.
Menurut Nyamin, memaksakan satu komoditas sepanjang tahun dapat meningkatkan risiko kerugian. Kentang, misalnya, tetap dapat ditanam saat musim penghujan. Namun, risikonya lebih tinggi. Pasalnya, tanaman lebih sensitif terhadap kelebihan air dan kelembapan. Persoalan regenerasi juga dirasakan langsung petani.
Nyamin mengatakan tidak banyak anak muda yang tertarik meneruskan profesi sebagai petani. Karena itu, praktik bertani yang lebih efisien mulai diterapkan. Tujuannya untuk mengurangi beban kerja. “Sekarang tidak perlu menyiram secara manual. Bisa menggunakan mesin yang akan memompa air dari sungai atau sumber dan mengalirkannya menggunakan paralon ke ladang secara otomatis,” jelas petani berusia 62 tahun tersebut.
Ketua Komisi C DPRD Kota Batu Dewi Kartika menilai minimnya petani muda harus segera direspons. Menurutnya, regenerasi bukan hanya menyangkut jumlah petani. Namun, keberlanjutan sektor pertanian Kota Batu. Bahkan, anak petani sendiri belum banyak yang memilih meneruskan pekerjaan orang tuanya.
Baca Juga: Terlilit Utang, Perempuan Asal Lumajang Bobol Rumah Kosong di Bumiaji Batu - Radar Batu
“Karena itu, pemerintah perlu membuat profesi petani lebih menarik bagi generasi muda. Supaya mereka bisa menjadi petani modern sesuai perkembangan era,” katanya. Dewi mendorong keterlibatan pemerintah, masyarakat, dan lembaga pendidikan dalam menyiapkan sarana serta pengetahuan pertanian modern.
Edukasi diharapkan dapat mengubah pandangan generasi muda. Bertani tidak identik dengan pekerjaan tradisional dan mengandalkan tenaga fisik. Dengan hanya 13,89 persen petani berusia 19-39 tahun, tantangan regenerasi masih cukup besar. Modernisasi menjadi salah satu jalan agar profesi petani lebih efisien dan menarik bagi generasi muda.
Editor : Fajar Andre Setiawan