Gate Parkir Alun-Alun Batu Didorong Full QRIS

Rori Dinanda Bestari • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 15:00 WIB
DALAM KAJIAN: Salah seorang wisatawan mengakses gate parkir di Alun-Alun Kota Batu beberapa hari lalu. (RORI DINANDA BESTARI/RADAR BATU)
DALAM KAJIAN: Salah seorang wisatawan mengakses gate parkir di Alun-Alun Kota Batu beberapa hari lalu. (RORI DINANDA BESTARI/RADAR BATU)

BATU, RADAR BATU - Gate parkir Alun-Alun Kota Batu didorong menjadi proyek percontohan penerapan pembayaran parkir nontunai. Akademisi Universitas Islam Malang (Unisma) Retno Wulan Sekarsari mengusulkan seluruh transaksi terhubung langsung dengan sistem gate dan rekening pemerintah daerah.

Menurut Retno, keberadaan gate seharusnya menjadi pintu masuk menuju sistem parkir yang lebih transparan. Namun, fungsi tersebut belum maksimal karena pembayaran masih belum sepenuhnya menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS).

“Nah, ini titik celahnya karena belum menggunakan QRIS baik di posko gate maupun pada petugas parkirnya,” jelas Retno.

Baca Juga: Rekomendasi Kafe Dengan Suasana yang Tenang Bikin Pasangan Betah Nongkrong - Radar Batu

Ia mengusulkan mekanisme pembayaran dibuat sederhana. Pengguna membayar melalui QRIS sebelum keluar dari area parkir. Setelah transaksi terverifikasi, palang gate baru terbuka.

“Ketika orang mau keluar, dia harus scan QRIS dulu baru palang pintunya terbuka. Dan QRIS-nya disambungkan langsung ke rekening daerah,” paparnya.

Menurut Retno, mekanisme tersebut membuat transaksi tercatat secara otomatis. Pemerintah juga dapat lebih mudah melakukan pengawasan dan audit terhadap penerimaan parkir.

Baca Juga: Film Animasi Cerita Rakyat Timun Mas Sedang Dalam Proses, Karya Studio Imagimata - Radar Batu

Sistem digital juga bisa membantu memastikan tarif yang dibayarkan pengguna sesuai ketentuan. Besaran retribusi ditentukan melalui sistem sehingga mengurangi potensi perbedaan tarif di lapangan.

Retno menyebut konsep elektronifikasi transaksi pemerintah daerah (ETPD) sebenarnya bukan hal baru. Ia pernah terlibat dalam penyusunan kerangka sistem tersebut untuk 3.000 titik parkir di Kabupaten Sidoarjo.

Namun, penerapan parkir nontunai di Kota Batu tetap membutuhkan skema transisi. Salah satunya untuk masyarakat yang belum memiliki layanan perbankan atau dompet digital.

Baca Juga: Dekat Bukit Teletubbies, Sabana Pengol Bromo Terbakar, Jalur Jemplang Ditutup - Radar Batu

Kelompok lanjut usia (lansia), misalnya, tetap harus mendapatkan kemudahan saat membayar. Retno mengusulkan juru parkir resmi dibekali identitas dan perangkat pembayaran yang terhubung dengan sistem.

Dengan mekanisme itu, juru parkir dapat membantu pengguna melakukan transaksi tanpa mengembalikan sistem ke pembayaran tunai.

Selain perangkat, pemerintah juga perlu memastikan data parkir diperbarui. Data tersebut mencakup lokasi parkir, volume kendaraan, durasi parkir, hingga potensi penerimaan masing-masing titik.

Baca Juga: Bukan Cake atau Es Krim, Ini 5 Jajanan Manis Tradisional yang Bisa Dicoba di Batu - Radar Batu

Data itu kemudian dapat dibandingkan dengan realisasi penerimaan. Jika terdapat selisih besar, pemerintah dapat segera melakukan penelusuran.

Retno menilai penerapan sistem digital secara menyeluruh berpotensi meningkatkan penerimaan retribusi daerah.

“Jika sistem ini diterapkan 100 persen menggunakan QRIS dan e-money di seluruh titik parkir Kota Batu, peningkatan pendapatan retribusi daerah akan sangat fantastis,” pungkasnya.

Pemkot Batu sendiri menargetkan pembayaran parkir nontunai mulai diterapkan bertahap pada 2027. 

Editor : Fajar Andre Setiawan
Parkir Nontunai Gate Parkir qris alun-alun parkir