Pemadaman Kebakaran Gunung Butak Terkendala Angin Kencang dan Medan Curam

Indah Mei Yunita • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 15:16 WIB
Personel BPBD Kota Batu berusaha memadamkan api di Gunung Buthak. (Istimewa)
Personel BPBD Kota Batu berusaha memadamkan api di Gunung Buthak. (Istimewa)

BATU, RADAR BATU – Pemadaman kebakaran di kawasan Gunung Butak hingga Senin (7/9) masih terkendala cuaca dan medan yang sulit. Titik api yang kembali muncul sejak Jumat (4/9) belum dapat dipastikan padam setelah kebakaran sebelumnya terjadi pada Selasa (1/9).

Tim gabungan dari Polres Batu, TNI, BPBD, relawan, dan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) dikerahkan untuk melakukan pemadaman secara manual. Petugas harus menyusuri medan perbukitan yang curam untuk menjangkau titik-titik api.

Angin Kencang Percepat Pergerakan Api

Angin kencang menjadi salah satu kendala utama dalam proses pemadaman kebakaran Gunung Butak. Kondisi tersebut membuat api lebih cepat bergerak sekaligus meningkatkan risiko bagi personel yang melakukan pemadaman di lapangan.

Administratur Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Malang Kelik Djatmiko mengatakan, medan di lokasi kebakaran juga menjadi tantangan tersendiri. Kontur lereng perbukitan yang curam membuat sejumlah titik sulit dijangkau tim gabungan.

Baca Juga: 271 Pendaki Gunung Butak Kota Batu Berhasil Dievakuasi

“Tiupan angin yang kencang di lokasi kejadian membuat pergerakan api semakin cepat dan membahayakan keselamatan tim pemadam kebakaran,” ujarnya, Senin (7/9).

Selain faktor angin, kondisi kemarau turut menyulitkan proses pengendalian api. Tim harus menentukan titik-titik yang menjadi prioritas untuk dipadamkan sekaligus mencegah api kembali menjalar ke area lain.

Water Bombing Belum Bisa Dilakukan Terus-Menerus

Upaya pemadaman tidak hanya dilakukan secara manual. Water bombing telah dikerahkan pada Sabtu (5/9) untuk membantu menjangkau kawasan yang sulit didatangi petugas melalui jalur darat.

Namun, operasi water bombing belum dapat dilakukan secara berkelanjutan. Kelik menjelaskan, keterbatasan armada membuat penggunaan bantuan udara harus menyesuaikan dengan kebutuhan penanganan darurat di wilayah lain.

Baca Juga: Api Lahap Lereng Gunung Butak, Kota Batu

Berbagai daerah di Jawa Timur juga membutuhkan dukungan penanganan kebakaran. Salah satunya Banyuwangi sehingga armada water bombing harus dibagi berdasarkan tingkat urgensi di lapangan.

Sementara itu, tim gabungan tetap melakukan pemadaman manual dengan peralatan yang tersedia. Salah satu metode yang digunakan adalah membuat sekat bakar di sejumlah titik strategis untuk membatasi pergerakan api.

Jalur Pendakian Tetap Ditutup

Kondisi kebakaran membuat jalur pendakian menuju Gunung Bokong, Panderman, dan Butak masih ditutup. Penutupan dilakukan demi keselamatan pendaki sekaligus memberikan ruang bagi petugas dalam menjalankan operasi pemadaman.

Penutupan jalur tersebut belum memiliki batas waktu pasti. Aktivitas pendakian baru akan dibuka setelah kondisi kebakaran dinyatakan terkendali.

“Penutupannya sampai kebakaran dapat dikendalikan,” pungkas Kelik.

Penutupan menjadi langkah antisipasi mengingat kondisi cuaca yang masih kering dan angin di kawasan pegunungan yang dapat berubah sewaktu-waktu. Selain berisiko bagi pendaki, kondisi tersebut juga dapat memperbesar potensi penyebaran api di kawasan hutan.

Editor : Aditya Novrian
kebakaran Gunung Butak jalur pendakian Gunung Butak pemadaman Gunung Butak water bombing gunung butak