BUMIAJI, RADAR BATU - Pengelolaan sampah di dua Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, dan Recycle (TPS3R) Kecamatan Bumiaji mulai diarahkan untuk memperkuat ketahanan pangan. Sampah organik diolah menjadi maggot. Lalu, dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Salah satunya untuk 40 ekor ayam petelur di TPS3R Kedung Kamulyan, Desa Giripurno.
Kepala Dusun Kedung Heri Uswanto menyebut, TPS3R Kedung Kamulyan mengembangkan budidaya peternakan dan perikanan. Salah satunya ayam petelur yang kini berjumlah sekitar 40 ekor. “Hampir setiap hari ayam-ayamnya bertelur. Satu ayam satu telur,” ujarnya.
Ayam tersebut diberi pakan campuran dedak dan maggot hasil pengolahan sampah organik. Selain mengurangi sampah, pemanfaatan maggot membantu menyediakan pakan alternatif bagi ternak. Hasil peternakan kemudian digunakan untuk mendukung operasional TPS3R.
Baca Juga: Indonesia Berangkat ke Asian Games 2026, Timnas Basket Siap Hadapi Raksasa Asia! - Radar Batu
Maggot memiliki kandungan protein 40-45 persen dari berat keringnya. Larva tersebut juga mengandung lemak 30-35 persen serta berbagai mineral. Kandungan nutrisi itu membuat maggot berpotensi menjadi pakan alternatif untuk mendukung pertumbuhan ternak.
Konsep serupa diterapkan di TPS3R Desa Sumbergondo yang dikelola Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Rejeki Barokah. Ketua KSM Rejeki Barokah Juma’ati mengaku membudidayakan bebek petelur dan pedaging dengan memanfaatkan maggot.
“Kalau di bebek, hasil telurnya sama saja meski tidak menggunakan maggot. Namun, hewannya cepat besar,” kata dia. Bebek diberi campuran dedak, sisa makanan, konsentrat, dan maggot. Bahkan, sisa makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) turut dimanfaatkan sebagai pakan.
Baca Juga: 69 Sapi di Kota Batu Terkena Penyakit LSD - Radar Batu
“Kami juga rutin mendapat sampah-sampah sisa MBG. Kadang ada telur, olahan sayuran sisa, dan makanan lain yang kami manfaatkan untuk pakan,” ucapnya. Produksi telur bebek masih fluktuatif. Namun dalam sebulan, Juma’ati menyebut hasilnya bisa mencapai 100 butir.
Setiap butir dijual Rp 2.200. Dengan produksi itu, pendapatan dari penjualan telur sekitar Rp 200 ribu per bulan. Hasil itu menjadi tambahan bagi kegiatan pengelolaan TPS3R sekaligus menunjukkan potensi pemanfaatan sampah untuk menghasilkan produk pangan.
Editor : Fajar Andre Setiawan