BATU, RADAR BATU – Pertanian dataran tinggi menjadi modal Kota Batu dalam seleksi nasional pengusulan nominasi UNESCO Creative Cities Network (UCCN) 2027 bidang Gastronomy. Pemkot Batu membawa konsep From Mountain Agriculture to Global Gastronomy dalam Seleksi Nasional Tahap II yang digelar Kementerian Ekonomi Kreatif RI.
Konsep tersebut menghubungkan aktivitas pertanian dengan kuliner, pariwisata, dan ekonomi masyarakat. Wali Kota Batu Nurochman mengatakan, potensi gastronomi di Kota Batu tidak bisa dilepaskan dari aktivitas pertanian yang selama ini menjadi bagian kehidupan masyarakat.
“Ini menyangkut siklus kehidupan, sumber penghidupan, serta tradisi yang lahir dari kesuburan tanah dan diwariskan turun-temurun,” kata Nurochman.
Komoditas Lokal Jadi Materi Pengusulan
Sejumlah komoditas pertanian menjadi bagian dari konsep yang dibawa Kota Batu. Di antaranya apel, jeruk, stroberi, sayuran, kopi, dan susu segar. Produk tersebut tidak hanya dipandang sebagai hasil pertanian, tetapi juga berkaitan dengan aktivitas pengolahan pangan dan kuliner di Kota Batu.
Baca Juga: Pekerja Konstruksi Batu Minim Perlindungan
Nurochman menyebut ada lima aspek yang menjadi dasar pengusulan. Yakni mountain agriculture, living food heritage, community-based food system, tourism as a market, dan farm to experience.
Kelima aspek itu menggambarkan hubungan antara petani, pelaku UMKM, hotel, restoran, dan sektor pariwisata. Sebanyak 24 desa wisata di Kota Batu juga disebut menjadi bagian dari rantai aktivitas tersebut.
Gagasan yang dibawa dalam seleksi UCCN tidak hanya menonjolkan produk kuliner. Pemkot Batu juga memasukkan persoalan yang berkaitan dengan keberlanjutan pertanian, termasuk regenerasi petani, alih fungsi lahan, dan perubahan iklim.
Regenerasi Petani hingga Alih Fungsi Lahan Disorot
Persoalan pertanian tersebut menjadi salah satu isu yang hendak diangkat melalui konsep gastronomi. Pemerintah daerah menilai keberlangsungan sektor pangan berkaitan dengan keberadaan petani dan lahan produksi.
Baca Juga: September 2026 Diramaikan Horor Lokal, Bisikan Desa Gringsing dan Munafik: Melawan Iblis
“Agenda ini kami arahkan untuk menjawab isu regenerasi petani, ancaman alih fungsi lahan, perubahan iklim, sekaligus mendongkrak daya saing produk lokal lewat ekonomi kreatif,” ujarnya.
Dalam pengusulan UCCN, Kota Batu juga membawa pengalaman kerja sama dengan sejumlah pihak dari luar negeri. Di antaranya Japan International Cooperation Agency (JICA), Kota Fukushima, Shimonoseki City University di Jepang, dan Westland di Belanda.
Kerja sama tersebut menjadi salah satu pendukung dalam pengembangan sektor pertanian dan ekonomi kreatif di Kota Batu. Namun, kekuatan utama yang ditawarkan dalam seleksi tetap berasal dari karakter pertanian dataran tinggi serta keterkaitannya dengan kuliner dan pariwisata lokal.
Seleksi Nasional Tahap II menjadi tahapan lanjutan dalam proses pengusulan Kota Batu sebagai kandidat UCCN 2027 bidang Gastronomy. Hasil seleksi tersebut akan menentukan kelanjutan proses nominasi Kota Batu di tingkat berikutnya.
Editor : Aditya Novrian