Kemarau Panjang Mulai Gerus Hasil Pertanian di Kota Batu

Indah Mei Yunita • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 16:00 WIB
IMBAS KEKERINGAN: Lahan pertanian tomat di Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo terdampak kekeringan. (INDAH MEI YUNITA/RADAR BATU)
IMBAS KEKERINGAN: Lahan pertanian tomat di Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo terdampak kekeringan. (INDAH MEI YUNITA/RADAR BATU)

BATU, RADAR BATU - Kemarau panjang mulai mengancam hasil pertanian di Kota Batu. Di Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo, sejumlah tanaman jeruk, tomat, dan komoditas lain mulai mengering. Hal itu dipicu minimnya hujan dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi tersebut membuat petani berisiko gagal panen.

Kemarau tahun ini dinilai lebih kering dibanding dua tahun sebelumnya. Pada 2024 dan 2025, hujan masih turun meski hanya sekali sepekan atau sebulan. Tahun ini, hujan nyaris tidak turun selama beberapa pekan.

Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), curah hujan di sebagian besar wilayah Jawa Timur, termasuk Kota Batu, hanya sekitar 0-20 milimeter. Kondisi itu diperkirakan bertahan hingga tiga bulan ke depan atau sekitar Oktober-November.

Baca Juga: Mengenal Fantano, Kritikus Musik Botak yang Gemar Bikin Warganet Ribut - Radar Batu

Petani pun harus mengeluarkan tenaga dan biaya lebih untuk mempertahankan tanaman. Mulyono, petani di Mojorejo mengatakan kebutuhan pengairan meningkat hingga dua kali lipat. Sebab, penyiraman harus dilakukan manual.

“Kalau kemarau begini, airnya harus di-kocor. Saya biasanya menggunakan galon-galon ini,” ujarnya sembari menyiapkan air. Air terlebih dahulu dipompa menuju tandon besar. Selanjutnya, air dibagi ke puluhan galon untuk menyiram tanaman.

Baca Juga: IshK Tolaram Eye Center Kembali Gelar Pemeriksaan Mata Gratis di CFD Mbatu Sae Kota Batu - Radar Batu

Saat masih turun hujan, penyiraman cukup dilakukan sehari sekali atau dua hari sekali. Kini, penyiraman bisa dilakukan dua kali sehari. Upaya tersebut belum sepenuhnya menyelamatkan tanaman. Sejumlah tanaman mulai layu. Buah yang sudah muncul juga ada yang mengeriput sehingga tidak layak dipasarkan.

Kekeringan menjadi risiko berulang bagi sektor pertanian Kota Batu saat kemarau. Sementara itu, pasokan air bersih untuk kebutuhan rumah tangga masih aman sehingga belum memerlukan dropping air. 

Editor : Fajar Andre Setiawan
kekeringan bmkg kemarau pertanian kota batu Petani Kota Batu