BATU, RADAR BATU – Masalah ketenagakerjaan di Kota Batu tidak hanya soal warga yang belum bekerja. Sebanyak 4,62 persen pekerja masuk kategori setengah pengangguran, yakni mereka yang bekerja kurang dari 35 jam dalam sepekan.
Kondisi tersebut menunjukkan sebagian pekerja Kota Batu belum mendapatkan jam kerja optimal. Fenomena itu berkaitan dengan karakter ekonomi daerah yang banyak bergantung pada pariwisata dan jasa.
Kepala BPS Kota Batu Herlina Prasetyowati Sambodo mengatakan pekerja casual menjadi salah satu kelompok yang mengalami kondisi tersebut. Mereka biasanya bekerja ketika permintaan tenaga kerja meningkat.
“Contohnya pekerja casual di hotel-hotel. Mereka biasanya hanya dipanggil kerja saat weekend atau ketika okupansi hotel sedang ramai,” jelasnya.
Pola tersebut membuat jam kerja sebagian pekerja sangat bergantung pada tingkat kunjungan wisatawan. Saat akhir pekan dan musim liburan, kebutuhan tenaga kerja meningkat.
Sebaliknya, pada hari biasa, aktivitas ekonomi wisata dapat melandai. Dampaknya, jam kerja pekerja ikut berkurang.
Baca Juga: 7 Titik Kebakaran di Indonesia Sepekan Terakhir, dari Kalimantan hingga Nabire Papua - Radar Batu
Kondisi itu diperkuat tingginya pekerja informal di Kota Batu. Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Batu M. Forkan mencatat 52,31 persen pekerja berada di sektor informal.
“Sektor informal lebih tinggi dibandingkan sektor formal, yakni sebesar 52,31 persen,” terang Forkan.
Dominasi sektor informal membuat sebagian pekerja menghadapi pendapatan dan jam kerja yang lebih fluktuatif. Kondisi tersebut banyak ditemukan pada perdagangan, kuliner, dan jasa pariwisata.
Baca Juga: 95 Persen Pasukan Kuning di Kota Batu Kini Berstatus PPPK - Radar Batu
Persoalan tersebut membuat angka TPT tidak bisa menjadi satu-satunya indikator kondisi pasar kerja Kota Batu.
BPS memang mencatat TPT Kota Batu turun dari 3,63 persen menjadi 3,53 persen pada 2025. Namun, jumlah pengangguran justru naik menjadi 5.024 orang.
Artinya, persoalan ketenagakerjaan Kota Batu memiliki lapisan yang lebih luas. Sebagian warga belum bekerja, sementara sebagian lainnya sudah bekerja tetapi belum memperoleh jam kerja yang cukup.
Baca Juga: Desa Sidomulyo, Kecamatan Batu, Kota Batu Andalkan Bunga Jadi Magnet Wisata - Radar Batu
Karena itu, tantangan pemerintah bukan sekadar menciptakan lapangan kerja. Pekerjaan yang tersedia juga perlu memiliki jam kerja lebih stabil, produktif, dan mampu memberikan pendapatan yang layak.
Terutama di tengah karakter ekonomi Kota Batu yang sangat dipengaruhi dinamika pariwisata.
Editor : Fajar Andre Setiawan