BATU, RADAR BATU – Suhu udara di sejumlah wilayah Malang Raya terasa lebih dingin selama periode kemarau. Fenomena bediding diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus. Selasa (11/8), suhu terendah tercatat di Automatic Weather Station (AWS) Bromo sebesar 5 derajat Celsius, sementara Kota Batu mencapai 14,8 derajat Celsius.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Karangploso menyebut kondisi tersebut merupakan fenomena tahunan yang umum terjadi saat Indonesia memasuki musim kemarau. Selain Bromo, Kota Batu juga menjadi salah satu wilayah dengan suhu terendah di Malang Raya.
Angin Monsun Australia Picu Udara Makin Dingin
Fenomena bediding dipicu oleh masuknya Angin Monsun Australia yang membawa massa udara kering dan relatif dingin menuju wilayah Asia melalui Indonesia. Kondisi tersebut membuat suhu udara pada malam hingga pagi hari turun lebih signifikan.
Baca Juga: Puncak Bediding di Kota Batu Diprediksi Terjadi Bulan Ini
Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Karangploso Linda Fitrotul mengatakan, bediding merupakan siklus tahunan yang lazim terjadi saat periode kering.
“Udara dingin itu dipicu oleh pergerakan Angin Monsun Australia,” ujarnya.
Angin tersebut bergerak dari Australia menuju Asia dengan membawa massa udara yang bersifat lebih kering dan dingin. Pengaruhnya semakin terasa di wilayah dengan elevasi tinggi seperti kawasan Bromo dan Kota Batu.
Langit Cerah Bikin Suhu Malam Cepat Turun
Selain pengaruh angin, kondisi langit yang minim tutupan awan turut membuat suhu udara turun lebih cepat pada malam hari. Saat siang, permukaan bumi menyerap energi panas dari sinar matahari.
Baca Juga: Bediding Pangkas Panen Mawar di Kota Batu hingga 80 Persen
Namun, ketika malam tiba, tidak adanya awan membuat panas dari permukaan bumi lebih mudah dilepaskan kembali ke atmosfer. Proses tersebut menyebabkan suhu udara turun secara signifikan hingga menjelang pagi.Kondisi inilah yang membuat hawa dingin terasa lebih menusuk selama musim kemarau, terutama pada malam hingga pagi hari. Wilayah dataran tinggi menjadi kawasan yang paling merasakan dampaknya.
BMKG Ingatkan Risiko Gangguan Kesehatan
BMKG mengimbau masyarakat tetap menjaga kondisi tubuh selama periode udara dingin dan kering. Perubahan suhu serta rendahnya kelembapan udara dapat meningkatkan risiko sejumlah gangguan kesehatan.
Masyarakat diimbau menjaga kondisi tubuh, terutama kelompok yang rentan mengalami gangguan akibat perubahan cuaca. Udara yang dingin dan kering dapat memicu gangguan pernapasan, membuat kulit lebih kering, serta meningkatkan risiko dehidrasi.
Fenomena bediding diperkirakan masih akan terasa selama periode kemarau. Masyarakat, khususnya yang beraktivitas di kawasan dataran tinggi, perlu mengantisipasi suhu dingin pada malam hingga pagi hari.