BATU, RADAR BATU - Krisis air bersih di Kota Batu kian terasa. Perumdam Among Tirto mencatat rata-rata debit mata air mengalami penurunan sekitar 20 persen dalam dua tahun terakhir. Kondisi itu mulai berdampak pada layanan distribusi air bersih di sejumlah wilayah. Khususnya di kawasan yang bergantung pada satu sumber mata air.
Salah satu wilayah yang terdampak ialah Dusun Dresel, Desa Oro-Oro Ombo, Kecamatan Batu. Warga di kawasan tersebut kerap mengeluhkan distribusi air yang tersendat. Saat debit sumber air menurun, distribusi air bahkan berhenti total. Sebagian warga terpaksa membeli pasokan air tangki untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Direktur Perumdam Among Tirto Kota Batu Ahmad Yusup mengatakan saat ini perusahaan memanfaatkan pasokan dari enam sumber mata air. Namun, salah satu sumber utama yang menyuplai wilayah Oro-Oro Ombo, yakni Sumber Darmi, mengalami penurunan debit yang cukup signifikan.
Baca Juga: Warga Ambil Alih Penyerahan PSU Tiga Perumahan ke Pemkot Batu - Radar Batu
“Wilayah Oro-Oro Ombo hanya mengandalkan Sumber Darmi. Saat ini debitnya turun hingga sekitar 11 liter per detik sehingga berdampak pada distribusi air ke pelanggan,” ujarnya. Menurut Yusup, persoalan distribusi tidak hanya dipengaruhi menurunnya debit mata air. Namun, juga kondisi jaringan perpipaan yang sudah berusia puluhan tahun.
Sekitar 60 persen jaringan di wilayah Oro-Oro Ombo masih menggunakan pipa lama peninggalan era kolonial. Pipa tersebut dinilai rawan mengalami kebocoran dan sulit ditelusuri. “Jaringan lama ini menjadi tantangan karena cukup sulit ditelusuri saat terjadi kebocoran. Ke depan kami akan melakukan revitalisasi jaringan secara bertahap,” katanya.
Di sisi lain, Pakar Hukum Lingkungan dan Hukum Adat Universitas Widyagama Malang Purnawan Dwikora Negara menilai penurunan debit mata air merupakan akumulasi persoalan yang terjadi selama bertahun-tahun. Berdasarkan catatan historis, kawasan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas pada dekade 1990-an memiliki sekitar 500 titik mata air.
Wilayah Kota Batu menjadi lokasi dengan sebaran titik paling banyak dari ratusan mata air tersebut. Namun, jumlah tersebut terus menyusut. Bahkan dalam data Perda lama Kota Batu hanya tercatat sekitar 111 titik mata air. Dari jumlah itu, hampir separonya dilaporkan mengalami penurunan debit.
“Penyebab utamanya adalah berkurangnya kawasan konservasi akibat alih fungsi lahan. Ketika daya resap tanah menurun, kemampuan kawasan hulu menyimpan air juga ikut berkurang,” ujarnya.
Selain perubahan tata guna lahan, Purnawan menyoroti meningkatnya pemanfaatan air tanah melalui pompa berkapasitas besar, baik untuk sektor usaha maupun pertanian. Pengambilan air secara masif dinilai mempercepat berkurangnya cadangan air tanah, terutama di kawasan hulu.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batu Dian Fachroni Kurniawan mengaku menggunakan data resmi sebanyak 157 titik mata air berdasarkan pemetaan Bidang Sumber Daya Air DPUPR. Data tersebut menjadi dasar penyusunan kebijakan perlindungan sumber daya air.
Menurut Dian, tingginya konsumsi air masyarakat juga menjadi tantangan tersendiri. Rata-rata kebutuhan air bersih di kawasan perkotaan mencapai 150 hingga lebih dari 200 liter per orang setiap hari. Di sisi lain, hasil kajian DLH menunjukkan sekitar 61 persen wilayah Kota Batu telah melampaui daya dukung lahannya.
“Laju pertumbuhan penduduk, pembangunan kawasan, dan kebutuhan air untuk pertanian menjadi faktor yang menekan ketersediaan sumber daya air,” katanya. Meski menghadapi penurunan debit, kualitas air di Kota Batu masih tergolong baik.
Berdasarkan pemantauan DLH, Indeks Kualitas Air (IKA) mencapai 71,60 pada tahun ini. Angka itu meningkat dibandingkan 63 pada 2023. Capaian tersebut menjadikan Kota Batu sebagai daerah dengan indeks kualitas air tertinggi di Jawa Timur.
Namun demikian, pemerintah menilai upaya konservasi kawasan resapan dan pengendalian alih fungsi lahan tetap menjadi langkah mendesak. Tujuannya agar ketersediaan air baku dapat terjaga dalam jangka panjang.
Editor : Fajar Andre Setiawan