KOTA BATU, RADAR BATU - Naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) memukul sektor transportasi online di Kota Batu. Biaya operasional yang membengkak membuat pendapatan bersih pengemudi ojek online (ojol) merosot hingga 30 persen. Kondisi ini diperparah lonjakan harga suku cadang dan skema tarif aplikator yang dinilai memberatkan.
Ketua Aliansi Ojol Bersatu (AOB) Kota Batu Arif Kurniawan menyebut dampak kenaikan merembet ke segala lini operasional. Pengemudi tidak hanya dipusingkan urusan isi tangki, tetapi juga biaya perawatan rutin kendaraan. Harga suku cadang hingga oli mesin kompak merangkak naik.
“Semua kena efeknya. Biaya servis rutin seperti ganti oli sekarang mencapai Rp 75 ribu, padahal sebelumnya hanya sekitar Rp 60 ribuan,” urai Arif. Situasi pelik ini memicu migrasi besar-besaran konsumsi BBM. Sebelumnya, separo pengemudi ojol Kota Batu mengandalkan Pertamax guna menjaga performa mesin.
Kini, desakan finansial memaksa 80 persen pengemudi turun kelas kembali menggunakan Pertalite. Kendati, Arif harus dibayangi risiko penurunan performa mesin jangka panjang. Kondisi itu kian memukul dompet para pejuang aspal. Dalam sehari, pengemudi rata-rata mengantongi pendapatan kotor Rp 130 ribu dari 20 pesanan.
Angka itu belum dikurangi ongkos bensin harian sebesar Rp 70 ribu. Praktis, mereka hanya membawa pulang sisa uang Rp 50 ribu hingga Rp 60 ribu untuk keluarga. “Secara umum penurunan pendapatan menyentuh 30 persen. Keadaan makin berat karena kami terkena potongan ganda imbas fitur tarif hemat dari aplikator,” keluhnya.
Sebagai bentuk pertahanan terakhir, pengemudi kini bersikap lebih pragmatis. Mereka kerap membatalkan pesanan dengan jarak penjemputan di atas dua kilometer akibat kalkulasi tarif yang tidak sepadan. Mayoritas driver juga terpaksa memperpanjang jam kerja sejak pagi buta hingga larut malam demi menutup kebutuhan harian. (ori/dre)
Editor : A. Nugroho