BATU - Intensitas bencana alam di Kota Batu melonjak tajam pada awal tahun ini. Sejak Januari hingga 10 Maret, tercatat 86 kejadian bencana yang dipicu cuaca ekstrem. Data tersebut menunjukkan tren peningkatan yang signifikan dalam waktu kurang dari tiga bulan. Kondisi ini menjadi peringatan atas tingginya kerentanan bencana di kawasan Kota Batu.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Batu Suwoko mengatakan lonjakan paling tajam terjadi pada Maret. “Baru 10 hari berjalan, Maret sudah mencatat 38 kejadian. Ini lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya,” ujarnya.
Secara rinci, Januari mencatat 34 kejadian. Angka itu sempat turun pada Februari menjadi 14 kejadian. Namun, intensitas kembali meningkat tajam pada Maret. Jenis bencana yang mendominasi antara lain tanah longsor, banjir, angin kencang, pohon tumbang, hingga plengsengan ambrol dan luapan air.
Dampaknya tidak hanya merusak fasilitas umum, tetapi juga hunian warga. Tercatat 15 rumah mengalami kerusakan dan membutuhkan perbaikan. Kerusakan tersebar di sembilan desa dan kelurahan di tiga kecamatan. Mayoritas terjadi pada bagian atap rumah akibat terpaan angin kencang dan hujan deras.
BACA JUGA Tak Punya Jalan Nasional, Kota Batu Kewalahan Hadapi Lonjakan Wisatawan
“Banyak atap rumah rusak, bahkan ada yang ambruk. Sebagian juga terdampak longsor dan pohon tumbang,” kata Suwoko. Salah satu kejadian terjadi di Desa Beji. Sebuah rumah mengalami kerusakan atap setelah diguyur hujan deras. Kondisi bangunan yang sudah rapuh memperparah dampak kerusakan.
Selain rumah, bencana juga merusak infrastruktur. Di antaranya plengsengan, jembatan, trotoar, hingga bangunan usaha. Kerusakan trotoar terjadi di Kelurahan Sisir akibat tanah bergerak. Sementara di Jalan Raya Oro-Oro Ombo, sebuah gudang sayur mengalami kerusakan parah setelah diterjang angin kencang pada Januari lalu.
Atap gudang seluas sekitar 500 meter persegi roboh akibat konstruksi penyangga yang telah lapuk. Kondisi serupa juga terjadi pada gudang milik warga di Desa Bumiaji yang rusak pada awal Maret. Setiap kejadian bencana ditangani melalui kaji cepat di lapangan. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kebutuhan penanganan darurat dan tindak lanjut pemulihan.
BACA JUGA Arak Ogoh-Ogoh, Warga Lintas Agama di Kota Batu Bersatu Sambut Nyepi
“Kaji cepat dan koordinasi lintas instansi menjadi langkah awal setiap penanganan,” ujar Suwoko. Untuk penanganan pascabencana, rehabilitasi rumah kini ditangani oleh Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman. Hingga 16 Maret lalu, tercatat 15 rumah masuk daftar penerima bantuan perbaikan.
Kepala Bidang Perumahan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kota Batu Prasetyo Bagus Wicaksono mengatakan pembagian tugas ini bertujuan agar penanganan lebih fokus dan tepat sasaran. Dengan skema tersebut, penanganan darurat tetap ditangani BPBD, sementara proses rehabilitasi dilakukan oleh dinas teknis.
Editor : Fajar Andre Setiawan