Nasional Kota Batu Hari Ini Wisata & Kuliner Kriminal-Kasuistika Ekonomi & Bisnis Pendidikan Opini

Ramadan Jadi Momentum Detoks Digital, Warga Diajak Puasa Media Sosial

Fajar Andre Setiawan • Minggu, 22 Februari 2026 | 14:39 WIB

 

BERI MATERI: Konselor Pernikahan Baiq Widya RS memaparkan materi kepada audienst di Karita Kawi pada 15 Februari lalu. FIKA AGHNIA RAHMA/RADAR MALANG
BERI MATERI: Konselor Pernikahan Baiq Widya RS memaparkan materi kepada audienst di Karita Kawi pada 15 Februari lalu. FIKA AGHNIA RAHMA/RADAR MALANG

MALANG KOTA - Ramadan 2026 didorong menjadi momentum pemulihan kesehatan mental bagi masyarakat Kota Malang. Dalam talkshow bertajuk ”Ramadan sebagai Ruang Aman untuk Memulihkan Diri” yang digelar di Karita Kawi pada 15 Februari lalu, konselor pernikahan Baiq Widya mengajak warga melakukan puasa scrolling media sosial untuk meredam stres dan kecemasan akibat paparan digital berlebih.

Widya menilai derasnya arus informasi dan konten di media sosial kerap membuat pikiran penuh, memicu perasaan tidak cukup, hingga meningkatkan kecemasan. Menurut dia, Ramadan tidak hanya dimaknai sebagai ibadah fisik, tetapi juga kesempatan membersihkan beban psikologis. “Banyak orang merasa lelah tanpa tahu sebabnya. Bisa jadi itu akumulasi tekanan yang tidak pernah diberi ruang untuk diproses,” ujarnya.

Ia menjelaskan, tanda-tanda mental yang lelah antara lain kehilangan semangat tanpa alasan jelas, merasa selalu gagal, serta sulit terhubung secara emosional meski berada di tengah keramaian. Kondisi tersebut, kata dia, perlu dikenali sejak awal agar tidak berkembang menjadi stres kronis.

Widya mengibaratkan kesehatan mental seperti pohon yang harus dicek hingga ke akar. Jika seseorang sulit produktif atau mudah tersulut emosi, kemungkinan ada persoalan mendasar yang belum diselesaikan. “Untuk menghasilkan buah yang baik, akarnya harus sehat. Jika jiwanya bermasalah, perbaikannya harus dimulai dari dalam,” katanya.

Ia memaparkan, stres memiliki spektrum mulai dari eustress atau stres positif, distress, hingga chronic stress yang berpotensi memicu gangguan psikologis. Namun tubuh memiliki mekanisme pemulihan alami melalui hormon serotonin dan dopamin yang dapat dirangsang lewat aktivitas sederhana.

Beberapa langkah yang disarankan antara lain teknik pernapasan dalam dengan menarik napas empat detik dan mengembuskannya selama tujuh detik, berinteraksi dengan alam, olahraga teratur, mengurangi konsumsi gula, serta rutin menulis jurnal harian sebagai sarana refleksi diri.

Dalam sesi praktik, peserta diajak melakukan meditasi singkat untuk mengenali emosi terpendam dan belajar melepaskannya melalui proses memaafkan. Suasana menjadi haru ketika sejumlah peserta tak kuasa menahan air mata saat mengingat pengalaman yang belum selesai secara emosional.

Sebagai penutup, Widya menekankan pentingnya membatasi konsumsi media sosial selama Ramadan. Menurutnya, puasa dari paparan konten negatif, drama, dan keluhan dapat membantu pikiran lebih jernih. “Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan diri dari hal-hal yang membuat jiwa semakin lelah,” ujarnya.

Peserta talkshow diminta menuliskan target pribadi selama Ramadan, termasuk komitmen menjaga kesehatan mental secara berkelanjutan. Dengan pengelolaan emosi dan pola pikir yang lebih sadar, Ramadan diharapkan menjadi titik balik untuk membangun ketahanan psikologis di tengah tekanan kehidupan urban. (Fika Aghnia Rahma/ori/dre)

Editor : Fajar Andre Setiawan
#ramadan